Simbok tak tahu lagi harus bagaimana terhadap gadis di depannya kini. Murid yang berotak cerdas, percaya diri, dan cantik. Hanya saja dia tomboi dan sangat membenci kedua orang tuanya.
"Terus Mama gak nyariin, Ndhuk?" menggamit lengan Rara ke sudut kelas. Sudut di mana ada sepasang meja kursi. Simbok dan murid-murid menyebutnya meja konsultasi. Simbok memang sengaja menyediakannya untuk murid-murid yang ingin dibantu, baik tentang pelajaran atau kegiatan sehari-hari. Kadang mereka juga datang ke meja ini sekedar untk bercerita dan itu sangat menyenangkan bagi Simbok.
Rara menyelonjorkan kaki, duduk bersandar pada kaki meja. Simbok melakukan hal yang sama. Mereka berdua duduk bersisihan.
"Mama dan papa gak ada di rumah. Mereka sedang liburan nonton bola di Itali," Hempusan napas Rara terdengar berat, bibirnya mengatup rekat. Matanya mulai berkaca-kaca. Simbok merengkuh bahu murid kecilnya ke pelukan. Ia tak tahu seberat apa beban yang ditanggung Rara, kekecewaan atau kebencian. Simbok hanya berusaha menenangkan.
"Rara benci Mama! Mama gak sayang Rara dan adik-adik. Rara benci!" suara Rara meninggi. Seisi kelas teralihkan ke mereka berdua.
Tugas yang diberikan Simbok sudah tidak mampu lagi menghalau keingintahuan murid-murid yang lain. Mata mereka seakan meminta penjelasan tentang apa yang barusan terjadi.
"Sebentar, Ibu mengarahkan teman-temanmu dulu ya. Jika ingin menangis, menangislah. Kalau malu di sini, kamu bisa ke masjid lantai dua. Nanti Ibu akan susul ke sana. Tapi jika ingin tetap di sini pun gak apa-apa," jelas Simbok pada Rara sebelum menuju ke depan kelas untuk menjelaskan konsep kecepatan disertai contoh penggunaannya dalam kehidupannya sehari-hari.
Belum sampai lima menit, Rara ijin keluar kelas. Simbok memberikan isyarat agar menuju ke masjid lantai dua dan hanya dijawab anggukan oleh Rara.
"Baik, ada yang belum mengerti?" tanya Simbok setelah selesai menjelaskan semuanya. Sejenak kelas hening.
"Baiklah, agar kalain lebih memahami penerapannya selesaikan permasalahan-permasalahan yang ada di halaman 87. Ingat, selalu beri langkah penyelesaian. Yang penting bagi Ibu kalian tahu prosesnya, bukan semata jawaban akhir benar." Simbok mengambi gawai di ranselnya, kemudian berpamitan, "Ibu harap kalian bisa menjaga ketertiban kelas. Rara sedang butuh waktu bersama Ibu, Ibu harap kalian memakluminya dan bisa diajak kerjasama." Simbok meninggalkan kelas, menuruni anak tangga menuju tempat yang tadi diinstruksikannya kepada Rara. Masjid lantai dua.
"Ndhuk, ini Ibu. Kamu di mana?" Simbok melangkah perlahan mencari sosok Rara di sudut ruangan.
"Ra?" kepala Simbok melongok setiap jengkal masjid dan lekukan dindingnya masjid yang bergaya klasik modern ini.
"Rara? Ra?" wajah Simbok pias, hampir lima menit menyusur ruang lantai dua ini namun tak juga menemukan sosok yang dicarinya.
Setengah berlari, simbok menuruni deretan anak tangga masjid menuju lantai satu. Tak jua menemukan gadis itu. Pun juga di toilet masjid. Simbok melongok ke luar masjid.
"Ndhuk? Kamu dimana?"
(TBC alias To Be Continue)
Nganjuk, 24 September 2019
Pukul 21.54