Setengah berlari, Simbok menuruni deretan anak tangga masjid menuju lantai satu. Tak jua menemukan gadis itu. Pun juga di toilet masjid. Simbok melongok ke luar.
"Ndhuk? Kamu dimana?" lirih suara Simbok. Ada rasa sesal menggerogoti. Seharusnya tadi Rara tidak dia tinggalkan.
Tanda keputusasaan sudah terbaca oleh Simbok sejak dua minggu yang lalu. Ketika Rara membuat ulah di kelas. Seharian tidak mau duduk di bangkunya. Menyelonjorkan kaki di lantai dan badannya bersandar ke dinding kelas bagian belakang dan bersenandung tidak jelas. Berbagai teguran dari guru mulai jam pertama hingga jam terakhir tak ada yang digubrisnya. Membebalkan telinga dan berakibat pabggilan orang tua. Namun ternyata, panggilan ini justru semakin membuatnya kacau karena tak satu pun yang datang. Papa atau Mamanya tak memberikan respon.
"Ra?" kembali Simbok ke toilet, mendorong pintu-pintu yang tertutup.
"Astaga, Rara!"
Simbok segera berlari ke luar. Mencari yang dibutuhkan. Handuk, baju seragam di koperasi sekolah, serta teh sebagai penghangat. Kemudian kembali ke tempat Rara berada bersama seorang bibik juru masak yang sempat berpapasan.
"Bik, tolong bantu angkat dulu. Baru setelah itu kita ganti seragamnya." seru Simbok pada bibik ternyata sedikit shock, terpaku melihat pemandangan di depannya.
(To Be Continue)