"Ma, adik Ma. Tolong adik!" tetiba Rara mengigau. Tangannya menggapai-gapai.
"Ma, tolong Ma!" lagi.

Guru Ratna menoleh lalu mendekap muridnya itu. Ada kecamuk dalam hati yang belum mampu terjawab.

Tangisan Rara mereda dan katup mata terbuka perlahan.
"Ndhuk, tenang. Ibu bersamamu," kedua tangan Guru Ratna memaksa wajah Rara agar memandang ke arahnya. Sendu terpampang jelas di sana.
"Bu, tolong adik. Bilang ke Mama kalau adik diperlakukan seperti binatang oleh Bik Nana. Suruh Mama pecat Bik Na. Rara mohon, Bu." Guru Ratna mencari kebenaran dalam sorot mata murid di depannya.
"Iya, nanti Ibu sampaikan ke Mama. Sekarang, Rara tenang saja dan minum dulu teh hangat ini," disodorkannya sebuah gelas berisi teh hangat yang dibawakan bibik dapur.

Sejam setelah beristirahat di ruang UKS, Rara bangkit dari ranjang kemudian turun menuju ruang dapur.
"Bik, bolehkah saya minta makan fuluan?" Rara memegang perutnya yang berbunyi. Bibik dapur yang sedang menata lauk makan siang seluruh murid tersentak.
"Ya Allah, Ra. Bibik kira siapa, buat kaget saja." Bibik menepuk lantai di sampingnya dengan tujuan meminta Rara duduk di sana.
"Boleh. Ambil saja, makan sampai kenyang ya yang penting habis, tidak boleh bersisa seperti biasanya."
Mata Rara berbinar kemudian mengambil piring berisi nasi dan dua tusuk sate ayam, menu kesukaannya.

***
"Ra," sapa Guru Ratna begitu bel pulang berbunyi. "Mau cerita ke Ibu?" tanya Guru Ratna. Mata Rara memalingkan pandangan.
"Ra, Ibu janji akan merahasiakan ceritamu. Ibu hanya ingin membantu." Kelas sudah sepi, tinggal mereka berdua.
"Bik Nana, dia dan anaknya memperlakukan saya dan adik-adik dengan kasar. Senin kemarin saya telat masuk karena bertengkar dulu sama anaknya Bik Na. Dia melempar jajanan yang dipegangnya saat adik minta. Panji sampai nangis karena jajan itu dibuang ke kolam renang sehingga tak bisa dimakan lagi. Suruh Mama pecat Bik Na, Bu. Kalau Rara yang bilang, Mama tidak percaya yang Rara ceritakan. Tolong Bu Ratna."
"Apa lagi yang dilakukan Bibik sampai Rara minta dia dipecat? Kasihan kalau dia memang butuh pekerjaan itu," Guru Ratna mencoba memancing lebih banyak informasi untuk bisa dikroscek dengan orang tua Rara.

Rara menarik napas seakan ada beban berat yang dirasakan.
"Kata Mama, Rara harus bisa menjaga adik-adik," Guru Ratna memandang dengan sesama wajah Rara, meyakinkan diri bahwa Rara tidak sedang berbohong. Tangan di balik loker meja menekan tombol pada layar gawainya. Tanpa sepengetahuan Rara, ia mencoba merekam apa yang ingin Rara ceritakan.

Rara, gadis kelas 5 ini memang sering ditinggal oleh kedua orang tuanya dinas ke luar kota. Kesibukan keduanya sebagai dokter mengharuskan menitipkan ketiga anaknya ke Bibik di rumah. Bibik yang belakangan diketahui Ratna tinggal di rumah Rara saat kedua orang tua Rara ke luar kota. Inilah yang menjadi permasalahan.
"Rara gak suka gayanya yang sok mengundang teman-temannya ke rumah lalu pesta-pesta makanan. Isi kulkas dihabiskan padahal yang belanja Mama." kegerahan tetiba muncul kembali.
"Mengapa Mama pergi-pergi terus? Mengapa Rara yang harus jaga Panji dan Dewa? Harusnya kan Mama yang mengurus kami. Mengapa, Bu?"
"Ehm, Mama banyak pekerjaan yang harus diselesaikan, Ra. Mama pasti juga sangat senang jika bisa menunggui kalian, tapi mungkin belum bisa untuk saat ini," hibur Guru Ratna.
"Tidak. Mama gak mau mengurus Rara dan adik-adik. Mama hanya suka jalan-jalan sama Papa. Mama jahat. Rara benci Mama!" Rara meronta, kepalan tangannya memukul meja.

(To Be Continue)