Rara, gadis kelas 5 ini memang sering ditinggal oleh kedua orang tuanya dinas ke luar kota. Kesibukan keduanya sebagai dokter mengharuskan menitipkan ketiga anaknya ke Bibik di rumah. Bibik yang belakangan diketahui Ratna tinggal di rumah Rara saat kedua orang tua Rara ke luar kota. Inilah yang menjadi permasalahan.

"Rara gak suka gayanya yang sok mengundang teman-temannya ke rumah lalu pesta-pesta makanan. Isi kulkas dihabiskan padahal yang belanja Mama." kegerahan tetiba muncul kembali.

"Mengapa Mama pergi-pergi terus? Mengapa Rara yang harus jaga Panji dan Dewa? Harusnya kan Mama yang mengurus kami. Mengapa, Bu?"
"Ehm, Mama banyak pekerjaan yang harus diselesaikan, Ra. Mama pasti juga sangat senang jika bisa menunggui kalian, tapi mungkin belum bisa untuk saat ini," hibur Guru Ratna.
"Tidak. Mama gak mau mengurus Rara dan adik-adik. Mama hanya suka jalan-jalan sama Papa. Mama jahat. Rara benci Mama!" Rara meronta, kepalan tangannya memukul meja.

Klik.
Guru Ratna menyelesaikan rekaman tersembunyinya. Berdiri menghampiri Rara yang sedang kacau. Setidaknya sedikit benang merah telah didapatnya. Dia tahu, mungkin dirinya terlalu jauh ikut campur urusan keluarga Rara ini, tapi nalurinya tak bisa dicegah melihat Rara maupun muridnya lain ke sekolah dalam keadaan kacau, tidak semangat, atau murung untuk segera mencari sumber permasalahan. Berharap segera terselesaikan dan mereka ke sekolah dengan hati bahagia dan riang gembira.

***

Kegelisahan sosok ibu yang sedang berlibur menuruti kemauan sang suami menonton bola di Itali tak dapat disembunyikan lagi. Kabar putri sulungnya pingsan serta hasil rekaman dari sang guru membuatnya hilang semangat. Sehingga dengan membulatkan tekad menyampaikan ke suami meski dengan resiko yang sudah bisa dia prediksi.

"Pa," sedikit terdekat tenggorokannya menyampaikan keadaan putri mereka.
"Ya, Ma?" sahut sang dokter spesialis yang baru dua bulan menyelesaikan gelar doktornya.
"Rara,"
"Ada apa lagi dengan anak bandel itu? Sudah prestasi akademiknya jelek sering buat masalah lagi. Kali ini apa?" sahut sang dokter cepat walau istrinya belum sempat menceritakan keadaan di rumah. 
"Rara pingsan di sekolah. Mama ingin pulang. Pukul 15.00 nanti pesawat yang Mama tumpangi. Masih ada waktu booked tiket lagi jika Papa juga ingin pulang bersama," kenangan air mata telah membasahi pipi perempuan cantik yang modis ini. Tak berapa lama, dia berdiri dan mengemas barang-barang ke dalam koper. Sementara sang dokter masih terdekat, tak menyangka istrinya kali ini benar-benar menentangnya. Dia hanya bergeming bersandar di ranjang.

Enam jam kemudian, Sang Mama sudah berada di kursi ruang tunggu bandara internasional Fiumicino, sendiri. Angannya terpaku pada saat suaminya memukul keras sang putri, Rara hanya karena nilai raportnya hanya mendapatkan rata2 8,8 serta bukan rangking pertama.

"Bodoh kamu, masa pelajaran mudah gitu tak bisa dapat nilai 100. Malu Papa. Dulu padamu ini bintang kelas, bahkan raport terbaik sesekolahan."

Sangat jelas tergambar di benaknya Rara yang menangis dan minta ampun seharian kepada Papanya. Kemarahan sang papa pun berakibat pada dua anak lelakinya, mereka tak pernah lagi mendekat kepada Papanya. Hingga akhirnya dia mengambil keputusan untuk membuat jarak antara Sang Suami dengan Rara maupun dua putranya. Usahanya untuk melembutkan hati suami sudah menemui batas akhirnya. Menjauhkan suami dari ketiga anaknya adalah pilihan terakhir yang diambilnya.

"Ternyata mamamu ini salah, Ra. Mama kira Bik Nik adalah sosok yang baik santun dan sangat tepat merawat kalian. Ternyata malah dia penyebab biang kerok ini. Maafkan mama, Nak" gumam sang mama.
"Mama kira dengan menjauhkan kamu dari Papa akan membuatmu lebih santai dan tidak terbebani dengan tuntutannya," melihat jam tangan, 20 menit lagi perawatnya landing.
"Maafkan Mama, Ndhuk. Maafkan!"

(End) 
Sampai bertemu dengan kisah-kisah Guru Ratna berikutnya.