"Pak, Mbok galau nih," rajuk Simbok bergelayut di lengan Bapak.
"Galau? Seperti anak jaman now saja, pakai galau segala," sambung Bapak diiringi sedikit senyum. Meski terkesan mengejek tapi tangan Bapak merangkul pundak Simbok dan menariknya ke dadanya yang bidang.
"Ih, Bapak ini. Simbok galau malah dibecandain," melepas rangkulan tangan Bapak dan memajukan bibir. Cemberut.
"Haha, marah ini ceritanya?" Jemari Bapak mengusap kepala Simbok.
"Enggak!"
"Iya deh, Bapak minta maaf. Maafkan Bapak ya, Mbok yang super cantik dan manis," gombal Bapak. Berharap Simbok menyudahi amarahnya.
"Enggak salah ngapain minta maaf?" cerewet Simbok, bibirnya yang semula mengerucut ke depan kini beralih ke kanan lalu kiri diiringi lirikan mata yang membuat Bapak geleng kepala.
"Lhah? Kalau Bapak gak salah kok cemberut njabrut gitu?" gumam Bapak. "Susahnya bercanda dengan perempuan. Minta maaf salah, enggak minta maaf tambah salah. Nasib, nasib." Bapak mengelus dada.
"Ya, Bapak sih. Simbok serius ditanggepi dengan bercanda," omel Simbok. Bapak? Hanya mampu nyengir kuda. Takut salah lagi jika ngomong.
Sepuluh menit Simbok meluapkan kekesalannya dan hanya ditanggapi Bapak dengan senyum dan anggukan. Setelahnya barulah Bapak berani bicara.
"Sudah, Mbok? Sekarang apa yang membuat galau?"
"Seriusan ya!" ancam Simbok.
"Iya, Mbok," dua jari Bapak acungkan sebagai tanda serius dengan pertanyaannya.
Simbok menggeser duduknya. Kembali menggelayut di lengan Bapak.
"Pak, kita menikah sudah hampir sepuluh tahun. Sudah ada gendhuk juga tole sekarang," memandang ke arah Bapak.
"Hm,"
"Menurut Bapak masih ada yang kurang tidak?"
Bola mata Bapak berputar, berpikir ke arah mana kira-kira percakapan dari Simbok barusan.
"Hm, apa ya? Rumah sudah ada, anak paket lengkap cewek cowok sholih sholihah lagi. Kendaraan? Juga sudah ada meski baru motor butut. Makan juga sudah setiap hari, tiga kali malah. Apalagi?" Bapak balik bertanya dengan menggendikkan bahu.
Keduanya diam. Menerawang. Menyelami masa sepuluh tahun kebersamaan mereka. Mulai dari perkenalan, ijab kabul, perjuangan saat kelahiran putri pertama, menabung hingga akhirnya punya rumah sendiri, kedatangan tole, hingga sampai pada titik kini. Kehidupan keluarga kecil ini terlihat sempurna walau kadang ada sedikit badai mengguncang. Bapak dan Simbok berpelukan.
"Terima kasih, Pak. Simbok merasa menjadi perempuan yang sangat beruntung memiliki suami seperti Bapak. Telah membimbing Simbok ini juga gendhuk tole menjadi lebih baik," bisik Simbok.
"Sama, Mbok. Bapak juga berterima kasih sudah melengkapi kehidupan Bapak. Sudah menghadirkan gendhuk dan tole yang shalih shalihah karena didikanmu." Bapak mengecup kening Simbok.
"Ehm," simbok ragu hendak mengatakan sesuatu.
"Ada apa, Mbok? Ada yang masih kurang?" tanya Bapak menangkap tingkah simbok.
"Pak," melonggarkan pelukan dan menatap wajah Bapak. "Simbok ingin berbagi dengan orang lain." Bapak mengeryit tidak paham, namun kemudian tersenyum.
"Memang Simbok bisa?"
"Ya, dicoba dulu Pak."
"Dicoba? Kapan?" Bapak antusias.
"Kapan? Secepatnya. Lebih cepat lebih baik menurut Mbok," wajah Simbok berseri, tidak menyangka keinginannya akan diijinkan dan didukung Bapak. Simbok kian bersemangat.
"Boleh. Tapi dengan siapa? Bapak tak punya pandangan," sungutnya.
"Dengan siapa? Ya dengan Bapaklah. Siapa lagi?" ketus jawaban Simbok. "Eh, tunggu. Maksud Bapak 'dengan siapa' itu apa?" Simbok mendelik. Sementara Bapak salah tingkah, ditatap penuh intimidasi seperti itu.
"Lha maksud Simbok apa to? Berbagi apa?" Bapak berusaha tenang agar tak memancing perseteruan.
"Ehm, Simbok ingin berbagi kisah, cerita, inspirasi, apa saja tentang keluarga atau lingkungan sekitar kita lewat tulisan. Simbok ingin punya blog. Jadi blogger yang menginspirasi orang-orang."
"Oh, kirain," jawab Bapak menggantung.
"Kirain apa?" sahut Simbok.
"Eh, oh, kirain Simbok mau berbagi sembako atau apa gitu," Bapak ngeles padahal tadi sempat terpikir kalau Simbok mau berbagi peran sebagai istri. Menginginkan Bapak nikah lagi. "Haha," tawa Bapak pelan menanggapi kekonyolan pikirannya.
"Bagus itu, Mbok. Memang mau menulis seperti apa?" mencoba mengalihkan pikirannya.
"Menulis cerpen atau cerbung, pokoknya yang fiksi gitulah, Pak. Tapi bercerita kisah kehidupan sehari-hari, sederhana, enteng, enak dibaca tapi sarat pesannya. Pembaca bisa mengambil hikmah dan pelajaran baiknya. Boleh?"
"Ya boleh banget, Mbok. Asal diniatkan ibadah. Berbagi kebaikan. Gih, sana segera dimulai."
"Siap!" Simbok mengangkat tangan kanan dan meletakkan di pelipis seperti sedang hormat bendera. Tapi sebentar kemudian Simbok lemas lagi.
"Apa lagi, Mbok?"
"Belikan laptop dan langganan wifi ya?" Simbok nyengir.
"Alamak, kena todong ini namanya," Bapak tepuk jidat dan geleng-geleng kepala.