Simbok mengeluarkan sepeda motor matic kesayangannya. Ada rasa berat yang memenuhi ruang hatinya. Kabar duka tentang kematian sahabatnya dengan cara memilukan seakan menahan kakinya untuk memberikan penghormatan terakhir. Bukan. Bukan simbok tidak mau melayat, hanya takut nanti tidak kuat saat melihat peti yang terdapat jasad karibnya dalam keadaan tidak utuh. Mendengar kabarnya saja sudah membuatnya tersedu apalagi berada di dekatnya? Oh, tak ingin rasanya.
Tapi kapan lagi? Ini kesempatan terakhir simbok. Dengan menguatkan hati akhirnya simbok pergi juga. Perlahan dipacunya kendaraan roda dua itu dengan kecepatan tak lebih dari 30 km/jam menuju rumah duka.
"Dert ... dert," suara tanda pesan masuk di gawai simbok.
Segera dinyalakan lampu sein kiri untuk menepi.
"Maaf, kami berangkat dulu karena mendadak pimpinan minta ada rapat setelah makan siang. Kita ketemu di rumah duka saja, ya." Pesan dari teman simbok yang tadi janjian mau melayat bareng.
"Iya, sampai ketemu di sana," balasan dari simbok pun terkirim.
"Bismillah, pelan saja Mbok," ucap simbok pada dirinya sendiri.
Siang yang panas menambah berat perjalanan. Apalagi ketika di jalan Nganjuk - Madiun, tepatnya desa Selorejo laju motor simbok agak terganggu dengan ramainya jalan.
"Ada apa ini? Apa aku sudah sampai? Mereka ini pelayat sepertiku? Ah, ini kan masih Selo?" guman simbok celingukan memastikan lokasi dan melihat banyaknya warga yang turun ke jalan. Ada beberapa polisi yang nampak bersliweran di tengah mereka.
"Ada apa ya, Pak?" simbok bertanya pada seorang laki-laki yang melintas di depannya setelah menepikan motor.
"Kecelakaan, mobil nabrak bis."
"Mobil nabrak bis? Bisnya sedang berhenti gitu to?" simbok belum paham maksud jawaban dari si bapak.
"Enggak, Mbak. Mobilnya nantang ke tengah saat ada bis nyalip depannya," jelas si bapak sambil kedua tangannya memperagakan kronologis kejadian.
Belum sampai simbok menanggapi, terdengar rutukan seseorang setelah melihat kendaraan yang ternyata rusak parah. Sebagian body mobil remuk sampai kap atas tersingkap. Kursi sopir ke belakang ringsek. Sementara bis hanya penyok di bagian depan bawah dan lecet di badan sebelah kanan.
"Salah sendiri main-main dengan ucapan. Pakai unggah video minta dijadikan cerita tabrakan. Nah akhirnya kejadian beneran kan."
"Maksudnya, Mas?" Simbok tak kuasa untuk tidak bertanya.
"Itu, Bu. Katanya penumpang mobil ini sebelum kejadian, upload video pas dalam mobil dan bilang ingin dibuatkan cerita tentang tabrakan. Apes, malaikat mengaminkan omongannya dan langsung nabrak ini."
"Ya Allah,  ....?" simbok menutup mulut. Sungguh Kuasa Allah.
Setelah menenangkan diri sebentar, simbok kemudian kembali melanjutkan perjalanan.
"Ya Allah, paringi hamba keselamatan baik di dunia maupun akhirat kelak. Mohon kekuatan agar diri ini bisa mengontrol ucapan, hanya mengucapkan yang baik dan benar. Tidak sembrono, tidak angger nyeplos tak karuan."
Simbok jadi ingat pesan guru ngaji,
"Bicaramu itu bagian dari doamu, maka berhati-hatilah saat bicara. Pikirkan terlebih dulu, jangan asal 'njeplak' tidak karuan."