"Haha, ada-ada saja si mbak cantik satu ini. Flatulensi, hem ...," simbok cengingisan sendiri saat membaca grup whatsapp tentang kepenulisan.
"Mbok? Kok senyam-senyum sendiri?" tegur Bapak kemudian menempelkan punggung tangannya ke kening simbok.
"Haduh, Bapak, Simbok masih waras ya," raut wajah simbok berubah jadi cemberut, tidak terima atas oerlakuan Bapak.
"Ya habisnya Simbok gak ada apa-apa bisa ketawa-ketiwi sendiri gitu. Bapak kan jadi kawatir."
Wajah simbok berubah sumringah karena perhatian Bapak.
"Ini lho, Pak. Teman di grup whatsapp ini lho, kok ya kreatif dan inovatif banget. Nulis puisi tapi yang ditulis itu lho," simbok geleng-geleng kepala serta menahan tawa.
"Puisi? Ya biasa to, Mbok. Memang yang dibahas bab apa?"
"Flatulensi, Pak."
"Frekuensi?" tanya Bapak memastikan pendengarannya.
"Fla-tu-len-si, Pak bukan frekuensi."
"Flatulensi?" ulang Bapak.
"Iya. Bapak tahu?"
Bapak hanya mampu menggelengkan kepala karena kata itu memang asing baginya.
"Ini lho, Pak," simbok mendekat ke Bapak dan menunjukkan chat di whatsapp grup kepenulisannya.
Bapak yang tertarik dengan istilah baru segera menyambar gawai simbok. Jemarinya lincah scroll ke bawah dari chat awal yang ditunjukkan.
"Astaga," saat Bapak membaca chat penjelasan dari si empunya puisi.
"Benar-benar kreatif ini, Mbok. Siapa yang menyangka kalau inspirasinya dari sini. Keren," Bapak memuji teman simbok.
"Nah kan, Simbok bilang apa. Kreatif ini puisinya. Hal seperti ini saja bisa menjadi sebuah tulisan sekeren ini, apalagi yang lain ya, Pak?" sungut simbok.
"Tentunya lebih WoW lagi, Mbok."
Keduanya tertawa bersama. Tak menyangka hal setemeh itu bisa jadi sumber inspirasi.
"Kira-kira inspirasi itu muncul ketika dia sedang apa ya, Mbok?" ceplos Bapak tetiba.
"Hah?" simbok kaget, tak menyangka pertanyaan serupa juga terpikir oleh Bapak.
"Iya, kira-kira ide nulis kentut itu muncul saat dia sedang apa? Sakit perut terus kentut-kentut gitu atau sedang apa ya?" jawab Bapak lebih ke dirinya sendiri.
"Yo mbohlah, Pak. Tapi bener juga pertanyaan Bapak. Saat ngapain ya kira-kira?" simbok malah tanya balik.
"Ah, nanti Mbok tanyakan ke orangnya langsung. Bikin penasaran saja."