BuSetelah berbelanja di Meimart, Bapak melajukan motor untuk pulang. Gemuruh di dadanya ternyata tertangkap juga oleh simbok.
"Pak, ada apa?" tanya simbok begitu sampai di rumah. Simbok kemudian duduk di samping Bapak. Terdengar desah nafas berat dari mulut Bapak, sepertinya ada beban yang mengganggu pikiran.
"Mbok, mungkin tidak jika gendhuk mencuri?" Bapak mengalihkan pandangan dari gendhuk, beganti menatap nanar ke arah simbok.
"Duh Gusti, semoga jangan sampai,  Pak. Mbok gak mau gendhuk atau tole jadi pencuri. Jangan!" simbok tak kuasa membayangkan.
"Bapak juga tidak percaya, tapi ...," Bapak tak melanjutkan kalimatnya. Tangannya menyapu mengusap wajah yang terlihat sedih.
"Tidak percaya? Apa maksud Bapak? Tspi apa, Pak? Apa?" nafas simbok memburu, dadanya sesak. Perkataan Bapak membuatnya berpikir yang bukan-bukan. Jemarinya meremas taplak meja makan di depannya. Ada kecemasan terhadap gendhuk.
"Apa gendhuk mencuri?" terbata simbok bertanya. Sebuah anggukan kecil dari Bapak membuatnya lunglai. Tidak percaya.
Beberapa menit berlalu. Simbok dan Bapak bermain dengan pikiran masing-masing. Tak ada yang bertanya atau memberi tahu. Sampai akhirnya gendhuk mendekat.
"Mbok, Ndhuk lapar. Boleh menggoreng telur?" tanyanya.
"Oh, Ndhuk lapar? Sebentar ya, Mbok gorengkan telur. Mau dadar atau mata sapi?" sahut simbok kemudian berdiri menuju kulkas untuk mencari telur.
"Dadar saja, Mbok. Ndhuk bantu ya?" tawar gendhuk mendekat.
"Ayo," simbok mengangguk dan memberikan telur kepada gendhuk yang telah membawa mangkok untuk mengocok telur.
Setelah matang, gendhuk makan dengan lahap. Bapak dan simbok duduk menemani.
"Enak, Nduk?" suara Bapak memecah kesunyian.
"Ehm, enak banget Pak. Simbok dan Bapak tidak makan?" jawab gendhuk setelah memasukkan suapan terakhir.
"Bapak masih kenyang, sepertinya simbokmu yang ngiler lihat kamu makan," goda Bapak pada simbok.
"Haha, iya Mbok? Enak lho. Gendhuk gorengkan telur lagi ya?"
"Eh, tidak usah Ndhuk. Simbok juga masih kenyang. Sana cuci piring dan tangan. Ini sudah Mbok buatkan sirup kesukaanmu. Cocopandan." Simbok mengangkat segelas besar sirup berwarna hijau yang terlihat sangat segar.
"Asyik," gendhuk berlari ke wastafel untuk cuci piring dan tangan.
"Pak, pelan-pelan saja tanyanya. Ibu kawatir Bapak emosi nanti."
"Iya, Mbok," anggukan kepala Bapak sedikit melegakan hati simbok.
Kini kedua pasang mata itu memandang ke sosok perempuan kecil yang tengah menuju ke arah mereka. Gendhuk tampak santai saja dengan tatapan kedua orang tuanya.
"Ndhuk, sini duduk dekat Bapak," Bapak menunjuk kursi di sebelah kirinya.
"Ehm, Ndhuk suka ya sama permen yang tadi dibeli? Enak?" seulas senyum menghias wajah Bapak agar gendhuknya tak merasa sedang diintrogasi.
"Suka, enak rasanya," polos gendhuj menjawab. "Kata teman-teman rasanya enak, makanya tadi gendhuk ambil permen itu."
"Kata teman? Ndhuk pernah diberi?" penuh selidik Bapak bertanya. Sementara simbok fokus menilai gestur tubuh gendhuk.
"Gak pernah dikasih, makanya tadi ambil."
"Kalau di swalayan, main ambil jajan atau minuman boleh tidak?" Gendhuk menggeleng.
"Lantas? Tadi?"
"Ndhuk ingin tahu rasanya, Pak, Mbok. Tapi kalau minta simbok pasti gak dikasih karena minta es krim saja cuma boleh satu"
Simbok sesenggukan, menahan lelehan air mata yang kuan tak terbendung. Sifat hematnya ternyata ada efek buruknya. Salahnya pula tidak memberikan alasan yang pas saat Ndhuk meminta beli es krim.