Siang itu, sudah lima belas menit simbok menunggu. Duduk menyelonjorkan kaki di tangga teras masjid sekolah. Sesekali pinggang diluruskan guna menghilangkan sedikit penat tubuh. Pandangan mata seakan tak ingin lepas menatap pintu gerbang, menunggu Bapak menjemput. Ya ternyata memang benar, menunggu itu sungguh membosankan.
Jika bukan karena anjuran dokter, malas rasanya harus menunggu seperti kali ini. Terpaksa simbok diantar jemput kerja setelah dua minggu lalu mengalami miskram, janin dalam kandungannya luruh saat berusia masuk delapan minggu. Faktor pimicunya adalah kecapekan.
Simbok adalah seorang guru di sebuah sekolah fullday, meninggalkan rumah paling lambat pukul 06.30 WIB dan baru akan masuk rumah paling cepat pukul tiga sore hari. Itu jika keadaan normal, kalau ada kelas bimbingan tambahan maka pukul enam pagi simbok sudah harus memulai pelajaran di kelas dan biasanya pukul 16.00 WIB baru keluar kelas.
"Sudah lama, Mbok?" sapa Bapak kala melihat simbok hampir terlelap di tangga teras masjid.
"Tidak, Pak. Baru lima belas menitan," sahut simbok dan segera berdiri mengemas dua tas bawaannya. Tas ransel berisi laptop dan tas jinjing berisi pekerjaan murid-muridnya yang harus dikoreksi nanti malam.
"Jadi sekalian belanja? Atau nanti malam saja keluar lagi?"
" Sekalian saja, Pak. Capek kalau harus bolak-balik lagi."
"Yeay, belanja. Di Meimart ya," pinta gendhuk antusias. Jarang-jarang memang gendhuk diajak belanja di swalayan, simbok lebih suka belanja harian di warung kelontong milik tetangga.
"Iya, Ndhuk mau beli apa memang?" tanya simbok sambil mengecup pipi anak perempuannya.
"Es krim, boleh?"
"Iya, boleh."
"Hore, makasih Mbok cantik," gendhuk mulai mengeluarkan rayuan andalannya.
"Sudah, ayo naik keburu magrib," Bapak memutar motor dan perlahan melaju meninggalkan halaman sekolah setelah kedua perempuannya naik di boncengan.
Sepuluh menit kemudian motor butut Bapak telah terparkir di swalayan Meimart. Gendhuk dengan sigap melompat dari boncengan langsung menuju pintu masuk.
"Ndhuk, tunggu sebentar," seru simbok melihat gendhuk sudah mendorong pintu kaca di hadapannya.
"Bapak tunggu di luar saja ya?  Gak banyak to belanjaannya?" ijin Bapak.
"Iya, sedikit Pak." Simbok segera menyusul gendhuk yang sudah berada di dekat box es krim. Sapaan ramah dari si mbak pramuniaga tidak begitu diperhatikannya, fokus ke polah gendhuk yang mengacak es krim.
"Ndhuk, ya jangan diacak-acak gitu. Kasihan mbaknya nanti harus nata lagi," bisik simbok di telinga gendhuk yang masih saja asyik memilih-milih es krim.
"Nah, ini dia." Gendhuk berseru setelah menemukan rasa yang dia cari.
"Jangan diambil dulu, Mbok ambil belanjaan dulu nanti kalau sudah ke kasir saja diambil es krimnya. Biar tidak cair." Simbok berlalu dari samping gendhuk dan meraih keranjang belanja. Mulai mengambil tisu, sabun mandi, dan keperluan bulanan lainnya.
"Ndhuk, Mbok sudah selesai. Ayo segera ambil es krimnya," seru simbok saat berada di dekat kasir hendak membayar belanjaan. Gendhuk yang hanya berjarak beberapa meter segera mendekat dan membawa dua buah es krim.
"Lho, kok dua?"
"Iya, ingin yang coklat dan vanila. Ya?" tanya gendhuk meminta persetujuan.
"Satu saja, besok-besok beli lagi. Nanti kalau dua, yang satu mencair sebelum dimakan," simbok memberikan sedikit alasan agar gendhuk mau mengambil satu es krim saja.
Gendhuk yang benar-benar bingung menentukan es krim mana yang diinginkannya akhirnya mengembalikan es krim rasa coklat dengan cemberut. Ada genangan air mata yang siap tumpah.
Tiba-tiba saja gendhuk mengusap kasar air mata itu. Dipandangnya sekeliling, memastikan semuanya berada pada tempatnya. Satu yang terus mengawasinya, simbok. Ditaruhnya es krim coklat ke box kulkas dengan perlahan. Kemudian berjalan melewati rak buah, mendekat ke rak roti sobek, dan sampailah di rak depan kasir. Kepala gendhuk melongok ke keyboard yang sedang dipencet kasir sepertinya penasaran dengan pekerjaan si mbak yang men-scan belanjaan simbok.
"Ndhuk, sini," panggil Bapak tiba-tiba. Tangan Bapak melambai meminta gendhuk mendekat ke arahnya, dekat pintu masuk. Setelah gendhuk mendekat, Bapak jongkok mensejajari pandangan mata gendhuk.
"Ndhuk, mau permen?" tangan kanan Bapak meraih tangan kiri gendhuk yang berada di saku, perlahan dibukanya jemari gendhuk yang rapat menggenggam.
Gendhuk hanya diam mematung. Semakin dirapatkan jemari tangan kirinya. Bola matanya bergerak ke kanan dan kiri menghindari tatapan Bapak.
"Ndhuk, jika kamu ingin permen bilang saja ke simbok ya. Sekarang sini berikan permennya biar dibayar dulu." Suara Bapak bergetar menahan sakit dan berharap perkiraannya benar.
"Gendhuk tidak seperti itu, dia hanya belum tahu," lirih suara Bapak kemudian menyerahkan permen kepada simbok untuk dibayar. Sementara simbok hanya mampu mengeryitkan dahi menangkap kode anggukan dari Bapak.
***
Dua menit yang lalu, tanpa sengaja pandangan mata Bapak melihat ke dalam swalayan dan kebetulan simbok sedang berada di depan kasir. Dilihatnya gendhuk berlari ke arah box es krim kemudian balik lagi ke depan kasir setelah meletakkan sebuah es krim yang dipegangnya. Kepala gendhuk melongok ke bagian dalam meja kasir namun tanpa sengaja mata Bapak menangkap jemari mungil putrinya tengah meraih permen yang berada di bawah badannya yang rapat ke rak dan gendhuk secepat kilat memasukkan ke saku celana.
Deg! Gendhuknya mencuri!
"Tidak, gendhuk hanya belum tahu saja," Bapak mencoba menetralisir hati dan pikirannya. Kemudian dia segera masuk dan memanggil gendhuk untuk mendekat sebelum si mbak menyadari apa yang dilakukan gendhuk.