Ratna. Gadis menginjak usia 22 tahun. Tingginya hanya 158cm dan berat badan mendekati 50kg. Pas, kalau kata orang. Wajahnya bulat dan tembem, hanya saja tersamar oleh jilbab antemnya. Manis dengan lesung pipi serta tahi lalat dekat bibir kanan bawah.

Lahir dan dibesarkan oleh keluarga yang menerapkan disiplin serta kemandirian membentuk karakter Ratna menjadi tangguh, tegas, dan tentunya taat aturan. Pak Kusuma yang keras menanamkan tanggung jawab kepada Ratna, sementara Bu Satun ikut andil dalam mengasah kepekaan sosial anak perempuannya. Ratna mendapat pengasuhan yang lengkap dari kedua orang tuanya.

Ratna kecil tidak pernah disuruh belajar. Belajar  adalah kebutuhan anak menurut beliau, jika butuh ya belajar jika pun tidak butuh ya tidak masalah hanya saja Pak Kusuma akan sangat marah ketika nilai raport yang diperoleh kurang dari nilai standart minimal atau di bawah rata-rata kelas. Namun justru dengan sistem didikan seperti ini, Ratna malah semangat belajar dan selalu menunjukkan prestasi luar biasa.

Ratna tumbuh dalam balutan prestasi hingga masa akhir kuliah dengan nilai cumlaud.
Hubungan sosial pun tak kalah seru, sikap tegas namun supel membuat jaringan pertemanannya luas. Hingga akhirnya, Ratna memutuskan untuk mengabdi di sebuah sekolah inpres desa tertinggal yang berjarak 10 km dari rumah.

Awal menjadi guru, Ratna hanya dipasrahi untuk mengurus administrasi sekolah atau menjadi staf tata usaha. Keahliannya mengoperasikan komputer menjadi angin segar bagi guru-guru mengingat sebelum ada Ratna, mereka selalu pergi ke rental untuk melengkapi berkas-berkas. Baik administrasi mengajar di kelas, berkas pangkat jabatan, maupun laporan keuangan bantuan operasional  sekolah.

"Mbak, nanti saya buatkan form pengajuan naik pangkat ya. Besok mau saya bawa ke kantor dinas."
"Iya, Bu Har. Naik ke IVa ya?" jawab Ratna menoleh pada sosok guru perempuan yang kini berada di sampingnya.
"Iya. Kalau ada sekalian diprint di buffalo merah," lanjut Bu Har.


Ratna berdiri untuk menulis di papan memo tugas-tugas yang harus dikerjakannya.
"Lihat, Dek. Seenaknya saja main perintah. Memangnya kamu itu asistennya apa?" Bu Puji mengomel sendiri setelah kepergian Bu Har. Rekan kerja Ratna yang satu ini memang tidak suka terhadap Bu Har, bukan tanpa alasan sebenarnya karena memang Bu Har terkenal suka main perintah ke Ratna maupun guru honorer yang lain. Termasuk Puji.
"Bukan perintah kok, Mbak. Minta tolong," sahut Ratna mencoba meredam emosi Puji.
"Alah, kok ya masih kamu bela. Kalau minta tolong itu harusnya bilangnya gini 'Mbak Ratna, bisa minta tolong buatkan form pengajuan naik pangkat?' lha tadi?"
"Gak apa-apa, Mbak. Sudah tua, tugas kita yang muda membantu beliau."
"Kamu saja, aku ogah!"
Ratna hanya tertawa menanggapi omelan Puji kemudian melanjutkan pekerjaan yang tertunda.

***

"Mbak Ratna bagaimana sih? Ini NIP saya kok salah?" Bu Har melempar lembaran buffalo merah ke keyboard di hadapan Ratna.

"Ehm, oh maaf. Maaf Bu Har, saya kurang teliti. Sebentar saya ganti," gelagapan Ratna mendapat perlakuan demikian. Baru kali ini Ratna melakukan kesalahan ketik pada permintaan Bu Har, namun tak menyangka akan seperti ini.

"Bu Har kira-kira dong! Sudah dibantuin, bukannya terima kasih malah main lempar gitu." Tiba-tiba Puji sudah berada di samping Ratna. Tangannya meringkas kasar lembaran buffalo yang terserak. Emosi telah menguasainya. Kertas-kertas yang sudah dalam genggaman diangkatnya tinggi di hadapan Bu Har.