Guru Ratna #2

"Bu Har kira-kira dong! Sudah dibantuin, bukannya terima kasih malah main lempar gitu." Tiba-tiba Puji sudah berada di samping Ratna. Tangannya meringkas kasar lembaran buffalo yang terserak. Emosi telah menguasainya. Kertas-kertas yang sudah dalam genggaman diangkatnya tinggi di hadapan Bu Har.

"Mbak Puj, sudah Mbak. Enggak baik bersikap kasar ke orang yang lebih tua. Ini tinggal ganti NIP saja kok." Ratna berdiri dan menahan tangan Puji yang telah siap mengacungkan kertas di hadapan Bu Har.
"Hah, kamu ini. Sudahlah lebih baik aku pergi." Puji meninggalkan ruang komputer di mana Ratna berada.

"Maaf, Bu Har. Ini mau di print ulang atau yang sudah ada dibenarkan dengan ditempel kertas lain? Kertas buffalo merahnya tinggal satu lembar," terang Ratna sambil menuju rak kertas dan menunjukkan stok kertas.
"Kalau di print ulang, kertasnya dari mana? Aku enggak mau beli sendiri."
"Biar dibelikan Pak Jo, tapi mohon Bu Har yang bilang ke Bu Ami agar diberi uang untuk belanja kertas," jelas Ratna. Ia kembali duduk di depan komputer dan memperbaiki nomor induk pegawai Bu Har yang salah ketik. Semenit kemudian sudah siap diprint. Ratna menoleh ke arah Bu Har berdiri, meminta persetujuan apa yang harus dilakukan. Lanjut print atau menunggu Pak Jo membeli kertas terlebih dahulu.

"Terserah bagaimana caranya yang penting berkasku sudah siap saat jam pulang nanti." Bu Har meninggalkan ruangan Ratna. Guru honorer ini hanya mampu geleng kepala menanggapi tingkah guru yang dua tahun lagi akan purna tugas.

Ratna bukan tidak terpancing emosinya menghadapi guru semacam ini, hanya saja jika menuruti panasnya hati, dia bisa stres sendiri mengingat kondisi sekolah ini memang jauh dari bayangannya dulu. Selain sikap Bu Har yang suka main perintah, masih ada beberapa guru dengan perilaku yang membuat Ratna mengelus dada.

Ada Pak Parjo, kepala sekolah yang sakit-sakitan dan temperamen baik kepada guru apalagi kepada murid saat mengajar di kelas. Pernah saat rapat dewan guru, beliau menggebrak meja hanya karena Bu Ami bendahara lupa membelikan konsumsi makan siang. Ratna juga pernah mendengar dari para murid kalau Pak Parjo baru saja melempar penghapus papan tulis ke seorang siswa yang bercanda ketika beliau mengajar.

Bu Ami sang bendahara  yang suka sekali membelanjakan uang bantuan operasional untuk membeli konsumsi guru namun tidak mau menyusun laporan pertanggungjawaban pengeluaran dana yang wajib dilaporkan ke dinas setiap tiga bulan sekali. Guru agama yang juga masuk usia tua ini dengan entengnya berkata "Mbak Puj, tadi dapat info sebulan lagi ada monev dari Inspektorat, semua berkas sudah siap kan?" Kontan, meski diucapkan dengan nada halus dan lemah lembut tapi sanggup membuat Puji dan Ratna gregetan ingin menggigit remahan bata. Saking jengkelnya.

Masih ada lagi, seorang guru yang masih usia 40an tapi penakutnya luar biasa. Minder jika diamanahi tugas, merasa tidak bisa padahal belum dicoba. Namanya Bu Sasi. Kurus kerempeng, kulitnya gelap, berambut keriting sebahu, dan jalannya sedikit bungkuk. Tapi meski penakut, Bu Sasi orangnya baik, pengertian, dan suka membawakan makanan karena punya usaha catering.

Dari sekian banyak guru, ada satu guru yang sangat perhatian kepada tenaga honorer. Masih muda, cantik, pintar, dan kalem. Seandainya boleh memilih, ingin rasanya Ratna menempatkan beliau, Bu Nani sebagai kepala sekolah saja. Pasti sekolah akan lebih maju. Sayangnya, Ratna tak punya kuasa untuk mewujudkan angannya.

Namun dari sekolah inpres ini, Ratna menemukan banyak pengalaman beradaptasi dengan berbagai tipe orang. Semakin mengokohkan pijakannya dalam bermasyarakat.
Ratna ingat, dulu pertama masuk sekolah ini sempat dibuat shock oleh salah satu murid, yang akhirnya dia tahu bernama Panji. Anak yang seharusnya sudah duduk di bangku sekolah lanjutan itu menghadang sepedanya.

"Wah, ada cewek cantik. Boleh kenalan? Aku Panji. Pemimpin anak-anak sini." Panji memegang keranjang sepeda dan menjukurkan satu tangan untuk berjabat tangan. Lagaknya seperti preman pasar kala itu. Ratna memicingkan mata, heran dengan kelakuan anak SD di hadapannya.
"Ehm, Panji bisa minggir. Ibu mau ketemu Bapak Kepala Sekolah."
"Ibu?" Panji mengeryit. "Ibu guru di sini?" sahut Panji sedikit tergagap. Takut. Bayangan Pak Parjo yang galak labgsung terbayang.
"Panji, apa yang kamu lakukan?" teriak seseorang dari arah ruang guru di belakang Panji.

***

Posting Komentar

0 Komentar