"Wah, ada cewek cantik. Boleh kenalan? Aku Panji. Pemimpin anak-anak sini." Panji memegang keranjang sepeda dan menjulurkan satu tangan untuk berjabat tangan. Lagaknya seperti preman pasar kala itu. Ratna memicingkan mata, heran dengan kelakuan anak SD di hadapannya.

"Ehm, Panji bisa minggir. Ibu mau ketemu Bapak Kepala Sekolah."
"Ibu?" Panji mengeryit. "Ibu guru di sini?" tanya Panji sedikit tergagap. Takut. Bayangan Pak Parjo yang galak langsung berkelibat.
"Panji, apa yang kamu lakukan?" teriak seseorang dari arah ruang guru di belakang Panji.
Sontak nyali murid kelas 6 itu menciut. Matanya mendelik karena bariton di belakangnya kian mendekat.
"Eng, anu Pak. Hanya ingin kenalan." Panji membungkuk dan melipir pergi. Tak ingin berurusan dengan kepala sekolah yang bertubuh tinggi besar dan berotot.
"Heh, murid tidak sopan! Sudah sana main sama teman-temanmu."

Ratna sedikit bernafas lega, pasalnya dia tidak tahu harus bersikap bagaimana terhadap calon muridnya barusan. Masih SD tapi sudah punya keberanian menggoda perempuan.
Kesan ini membuat Ratna was-was mengabdi di sekolah dengan murid seperti Panji, namun setelah beberapa bulan berinteraksi dengan mereka akhirnya Ratna mulai terbiasa. Rata-rata dari mereka sopan dan penurut, hanya beberapa yang sikapnya sudah tidak laiknya anak sekolah dasar. Menurutnya akibat lingkungan dan pergaulan.

Desa Jati adalah sebuah desa yang terletak di perbatasan antara kecamatan Nganjuk paling timur dengan kecamatan Sukomoro paling barat. Desa ini dikelilingi persawahan yang membentang sehingga terkesan seperti sebuah pulau di hamparan hijaunya padi. Hanya ada satu akses jalan utama keluar masuk desa. Hal inilah yang membuat desa Jati sedikit lambat pertumbuhan ekonomi dibanding desa-desa sekitarnya.

Dari 400an KK hanya ada dua orang menjadi aparatur sipil, dua orang guru SD inpres tempat Ratna mengabdi, yaitu Pak Parjo dan Bu Sasi. Beberapa orang menjadi karyawan di sebuah pabrik benang yang baru saja beroperasi, 3 orang juragan sawah, dan sisanya adalah buruh tani atau pekerjaaan serabutan lainnya.

Kondisi ketertinggalan inilah yang membuat generasi muda desa Jati banyak yang memilih bekerja ke luar daerah setelah lulus pendidikan. Umumnya hanya sampai sekolah lanjutan pertama atau SMP. Mereka pergi merantau dan hanya pulang sekali setahun saat libur hari raya.

Perkembangan luar biasa yang dirasakan di tempat kerja mereka bawa ke desa. Menyebar dari satu obrolan ke obrolan berikutnya kala berkumpul.
Seakan gelas kaca yang selesai dipakai menuang kopi panas kemudian langsung digunakan sebagai wadah es batu, ya pecah. Warga Jati yang masih tradisional, tidak tahu perkembangan dunia luar kemudian tiba-tiba disodori berbagai arus kemajuan yang deras menjadikan mental belum siap menerimanya.

***

"Boleh bawa HP, Bu?" tanya Doni ketika sekolah mengumumkan akan ada latihan Pramuka setiap hari Jumat pukul 3 sore hari.
"Boleh, tapi dipakainya setelah latihan selesai," jawab Bu Nani, wali kelas Doni juga Panji.
"Hore!" sorak Doni.
"Baik, nanti sepulang sekolah langsung istirahat. Jangan keluyuran, biar waktu latihan Pramuka kalian fit. Semangat, enggak lemes," nasehat Bu Nani. "Sekarang rapikan buku kalian, kita berdoa sebelum pulang."
"Baik, Bu," jawab murid kelas 6 serempak. Kemudian mereka merapikan buku masing-masing sambil bersenda gurau membicarakan kegiatan latihan Pramuka yang sudah lama tidak pernah diadakan di sekolah. Mereka mengira-ngira seperti apa latihannya dan sudah tidak sabar menunggu.

"Don, nanti kamu bawa HP?" tanya Panji di sela memasukkan buku ke tas.
"Iya, bapak ibuku belum pulang jam segitu jadi HPnya bisa kubawa," Doni nampak semangat menunjukkan HPnya.
"Ada videonya?"
"Ada. Yang seperti kemarin?" Doni mengerling.

***