"Dert ... dert ...." suara gawai simbok berbunyi.
"Bu, sudah dapat info belum kalau Pak Surya telah meninggal?" bunyi teks pesan dari teman kerja dulu.

"Innalillahi wainna ilaihi rojiun. Ya Allah, kenapa Pak Surya?" ucap simbok lirih. Kabar duka yang mengejutkan. Simbok segera menelepon ke nomor yang baru saja memberi kabar.
"Assalamu'alaikum, iya Bu?" jawab perempuan di seberang sana.
"Bu, Jenengan tidak salah to? Benar Pak Surya yang meninggal? Salah paling," cecar simbok pada teman karib saat masih sama-sama bekerja dulu.
"Tidak, Bu. Tadi teman-teman juga kaget dapat info ini, kemudian telepon Bu Fatma yang tetangga dengan Pak Surya. Bu Fatma meng'iya'kan. Bahkan sampai dipastikan ke rumah sakit kepolisian, bagian forensik."


Simbok masih belum nyambung dengan penjelasan temannya.
"Rumah sakit kepolisian?" tanya simbok lirih. Hatinya mulai berpikir yang tidak-tidak.
"Iya, Bu. Jenazahnya dibawa ke rumah sakit untuk diautopsi."
"Kecelakaan?"
"Bukan. Kasusnya sama dengan almarhumah ibunya," serak terdengar suara dari seberang.
"Astagfirullah ... Allah ... Allah. Seriusan, Bu? Ya Allah, Pak Surya, Ya Allah," simbok tergugu mendengar kabar yang begitu memilukan. Teringat setahun lalu, koran memberitakan sebuah kejadian bunuh diri di perlintasan kereta api. Tubuh korban berceceran kemana-mana dan ternyata perempuan itu adalah ibu dari sahabatnya.


"Ya Allah, Pak Surya mengapa sampai nekad seperti itu. Ya Allah, Ya Allah kuatkan istri dan ketiga anaknya, Ya Allah," simbok terus menceracau.
Ada sesak yang dirasakan meski simbok tahu, simbok yakin dan percaya bahwa umur setiap yang bernyawa telah tergaris takdirnya. Sudah ditentukan sampai usia berapa akan hidup di dunia.

"Ya Allah, ampuni hamba Ya Allah. Hamba tahu, hamba yakin umur ada dalam genggamanMu, Ya Allah. Tapi mengapa berita ini masih saja membuat hati hamba shock, Ya Allah. Ampuni hamba."

"Hallo, hallo Bu. Jenengan tidak apa-apa?" tanya teman perempuan simbok karena suaranya tak mendapat sahutan. 
"Eh, iya Bu. Maaf. Rencana teman-teman ke rumah duka kapan?" simbok tersadar teleponnya masih terhubung.
"Nanti pukul 10an, mau bareng sekalian?"
"Iya. Nanti tunggu aku di kantor, ya!"
"Siap,"
"Aku siap-siap dulu. Ini tole juga barusan tidur. Tunggu ya," pelan simbok menarik tubuh dari dekapan tole Al agar tidak terbangun.
"Ya sudah, kami tunggu. Segera siap-siap, " percakapan pun berakhir.


Pak Surya, lelaki tambun dan humoris itu telah memilih mengakhiri hidup. Simbok tak tahu apa sebab pastinya. Yang dia pahami, sahabatnya ini tengah mengalami tekanan batin. Terakhir bertemu sekitar dua atau tiga bulan lalu, saat berkunjung ke rumah simbok, Pak Surya bercerita tentang usaha sampingannya beternak ayam kampung.

"Untuk tambah bayar upah yang momong Sasa, Bu. Pokok apa pun yang bisa dijadikan uang tak lakoni."
Simbok ingat betul keluh kesahnya kala itu. Ekonomi, ya tuntutan kehidupan yang di atas cukup telah membebani pikirannya. Kekurangnrimoan membuat sahabatnya ini mengalami banyak tekanan sampai hampir stress.

"Aku gak kuat, Bu. Aku harus bagaimana? "
"Pak Surya mengapa kamu tetap memilih jalan itu?" desah simbok saat dirinya tengah berada di depan peti tertutup kain mori.

***

Sebuah kisah sebagai pengingat bahwa Sang Pencipta membebaskan makhlukNya untuk memilih, menentukan jalan yang akan ditempuh dengan segala resiko yang menyertai. Maka sebijaknyalah melangkah agar tiada sesal di kehidupan kekal kelak.