"Mesti, Ndhuk terus yang disalahin." Gendhuk berlalu meninggalkan simbok dan tole. Hatinya teriris karena merasa tidak lagi disayang oleh orang tuanya, terutama simbok sejak kelahiran Al, adik laki-lakinya. Simbok begitu lembut ketika berhadapan dengan tole tapi seketika berubah jadi sangat keras saat bersama gendhuk.
Seperti siang ini, saat gendhuk hendak membuat prakarya tugas dari sekolah. Gendhuk diwajibkan membuat dan membawa pot bunga dari daur ulang botol air mineral. Karena harus mencari bahan-bahan dan alat yang dibutuhkan maka gendhuk wara-wiri ke sana ke mari di dalam rumah.
Nah, dasarnya si tole seneng banget bermain dengan gendhuk akhirnya dia pun ikut wara-wiri. Gendhuk ke halaman depan, tole ikut. Gendhuk ke tempat pembuangan kotoran sapi untuk ambil pupuk kandang, tole Al pun tak ketinggalan. Ke depan ke belakang, ikut terus.
"Ndhuk, jangan muter-muter. Kasihan adik ngikutin terus!" bentak simbok ketika melihat tole terjatuh ketika naik tanjakan di teras.
"Lagian ngapain to, bolak-balik keluar masuk dari tadi?" kambuh kebiasaan simbok yang suka ngomel.
"Ya Allah, Mbok. Ndhuk sedang buat tugas sekolah."
"Buat apa? Mbok lihat dari tadi keluar masuk rumah terus."
"Buat seperti ini, Mbok," gendhuk menunjukkan sebuah halaman di buku tematiknya.
"Besok harus dibawa ke sekolah," gendhuk menimpali.
"Iya, tapi ya jangan keliling terus. Al ngikutin terus. Capek kan." Simbok meraih tole yang jatuh terduduk kemudian menghiburnya.
"Aduh, kasihan. Jatuh ya? Gak apa-apa, yuk berdiri lagi. Bismillah," simbok mengulurkan kedua tangan untuk membantu berdiri kembali.
Gendhuk? Simbok seakan lupa bahwa ada gendhuk, anaknya juga. Simbok abai bahwa gendhuk juga punya perasaan. Simbok ada anak lain yang juga ingin diperhatikan. Sinbok benar-benar lupa.