Lala, bocah tujuh tahun berkulit coklat cenderung gelap dengan rambut sebatas tengkuk itu nampak berdiri mengintip di balik pintu pagar. Enggan masuk halaman rumah, hanya melihat simbok dan gendhuk Hanin yang tengah membaca buku di teras. Sesekali wajahnya dipalingkan ke arah belakang, tempat rumahnya berada. Nampak mamanya berdiri berkacak pinggang dengan tatapan menyeramkan seakan berkata "Ayo, segera masuk dan lihat apa yang sedang dilakukan Hanin!"
Lala beringsut pelan mendekati gendhuk.
"Eh, Mbak Lala. Sini. Mau baca-baca?" sapa simbok saat melihat Lala sudah berada di samping gendhuknya. Lala hanya menatap dengan pandangan yang sulit diartikan oleh simbok.
"Ndhuk, itu ada Mbak La. Ambilkan buku yang mungkin disukainya," tegur simbok melihat gendhuk menghiraukan kedatangan teman bermainnya ini.
"Mau baca, Mbak La? Komik? Buku cerita? Atau yang lain?" tanya gendhuk setelah buku di tangannya diturunkan paksa oleh simbok.
Gendhuk menatap Mbak La dengan dahi berkerut karena hanya tatapan aneh yang dilihatnya.
"Mbak La enggak mau baca? Ayo kalau gitu kita mainan. Tapi tunggu sebentar ya, aku rapikan dulu buku-buku ini."
Lala tetap diam. Sesekali dilhatnya sang mama yang jauh di teras rumahnya.
"Mbak? Mbak La enggak kenapa-kenapa?"  gendhuk nampak cemas pasalnya Mbak La tak berbicara sepatah kata pun. Membaca buku di perpustakaan mininya juga tidak. Bermain apalagi. Diam saja. Duduk di sampingnya dan melihat segala gerak-geriknya.
Dua menit kemudian, "Laaa ... Pulang, sudah waktunya mandi!" suara teriakan mamanya terdengar menggelegar. Lala spontan langsung berlari pulang tanpa sempat berpamitan.
Sesampai di teras,Lala telah ditunggu sang mama.
"Apa yang kamu lihat di sana?" Lala diintrogasi.
"Baca buku," jawab Lala singkat.
"Buku apa?"
"Enggak tahu."
"Masak enggak tahu? Disuruh lihat saja enggak bisa! Contoh itu si Hanin. Sudah pintar, ngajinya bagus, sopan, nurut lagi sama orang tua. Tidak seperti kamu. Kerjaannya mainan melulu," omel mama Lala. "Mama nyuruh lihat ke sana itu biar kamu bisa contoh apa saja yang dilakukan si Hanin supaya kamu juga pintar dan nurut seperti dia. Semua demi kebaikan kamu. Ngerti?" jari telunjuk mama mendorong kening Lala.
"Iya, Ma," pelan Lala menjawab.
"Iya, iya tapi tetap saja tidak mau berubah!"
Lala berlalu meninggalkan sang mama, perlahan diusapnya air mata yang jatuh membasahi pipi. Sekuat tenaga ditahannya agar tidak terisak, karena Lala tahu tangisannya akan semakin membuat mamanya marah.
"Mbak La bukan Hanin, Ma."
***
Obsesi mamanya untuk menjadikan Lala seperti Hanin telah membuat Lala kecil kehilangan keceriaan, waktu bermainnya telah berganti dengan les-les yang didaftarkan sang mama. Hanya karena ingin mendapat pujian, mama Lala lupa bahwa setiap anak terlahir dengan potensinya masing-masing. Tak bisa disamakan antara yang satu dengan yang lain. Lala mungkin tak sepintar dan sepenurut Hanin, namun jika mau mencari pasti akan ada kelebihan yang dipunyai.