"Syuuurrr ... bughhh!" terdengar suara bedebam dari arah dapur.
Tak lama berselang, "Aduuuhhh," jerit suara perempuan. Ternyata simbok terpeleset saat melewati bak wastafel cuci piring.
"Mbok? Ada apa?" tanya Bapak berlari ke sumber suara.
"Ya Allah, Mbok kenapa?" Bapak segera mengulurkan kedua tangannya untuk membantu simbok bangun. Simbok tak mampu menjawab karena menahan sakit di pantatnya. Nahas, simbok jatuh dengan posisi terduduk sehingga pantatnya terasa ngilu.
"Aduh,  Pak. Sakit ini," berusaha berdiri tertatih.
"Pelan-pelan. Yup, begitu. Coba berjalan, ada yang nyeri tidak?" Bapak menuntun tubuh simbok, memeriksa keadaannya. Melihat usia simbok yang sudah tidak muda lagi, Bapak takut kalau-kalau ada tulang yang retak atau sendi yang melesat.
"Bisa?" Bapak bertanya ulang.
"Iya, bisa Pak. Gak apa-apa, hanya saja simbok kaget tadi." Simbok berjalan pelan menuju kursi makan yang ada di depannya.
"Syukurlah," Bapak menarik nafas lega sambil memberikan segelas air putih. Simbok segera meneguk habis isi gelas.
"Pak, itu lantainya basah semua. Bocor mungkin pipanya? Atau airnya macet terus meluber keluar," mata simbok menyelidik ke bagian bawah bak wastafel.
"Haha," Bapak malah tertawa.
"Lah, malah tertawa."
"Simbok ini ada-ada saja, masak ada air macet? Mampet maksudnya?" jelas Bapak.
"Ya, pokoknya itulah,  Pak."
"Iya mungkin, Mbok. Coba nanti Bapak cek,"
"Kok nanti? Sekarang saja. Nunggu apa lagi, Pak. Nanti keburu gendhuk dan tole bangun," simbok cemberut karena Bapak tak segera memperbaiki pipa yang bocor.
"Iya, Mbok. Tapi Bapak salat Subuh dulu. Sementara, Mbok gak usah pakai kran wastafel nanti airnya tambah meluber kemana-mana," Bapak berlalu meninggalkan simbok yang masih saja manyun sambil mengelus pantat yang sakit.
"Eh ya, sana ganti baju dulu. Apa mau basah-basahan gitu masaknya?" Bapak mengerling jahil.
"Ih, dasar Bapak genit."
Simbok berdiri dan mengambil keset dekat kulkas lalu meletakkan di bekas ia terjatuh. Berharap air bisa terserap dan tidak membahayakan yang melintas. Setelah dirasa tidak ada lagi genangan air, simbok bergegas ganti baju. Pagi sebelum gendhuk dan tole bangun adalah waktu berharga baginya karena bisa mengerjakan berbagai aktivitas domestik tanpa ribet oleh ulah keduanya.
Setelah ganti baju, simbok mengambil pel lantai dan ember plastik. Membersihkan bekas air kemudian meletakkan ember plastik di bawah pipa wastafel.
"Nunggu Bapak pulang dari surau tak jadi masak simbok nanti," gumannya kemudian menyalakan kran wastafel untuk mencuci beras. Simbok melongok ke bawah, memastikan pipa bagian mana yang bocor.
Sedetik, dua detik, tiga detik namun tak ada setetes air pun yang jatuh ke lantai. Kening simbok mengeryit, penuh tanda tanya.
"Gak ada air yang menetes. Lalu genangan tadi dari mana?"
Simbok menunduk lagi, kali ini sampai berjongkok di bawah wastafel. Mengamati lebih teliti. Wajahnya didekatkan ke pipa air. Mendekat, lebih dekat, dan "bughh" jidat simbok kejedot bawah bak wastafel saat Bapak tiba-tiba muncul.
"Ngapain, Mbok sampai jongkok gitu?"
"Aduh, Bapak ini buat simbok kaget saja. Nih kejedot deh jadinya," simbok jengkel dan menunjukkan jidat yang merah.
"Haha, lagian gak sabar amat sih. Sudah Bapak bilang nanti Bapak benerin, masih saja ngeyel mau benerin sendiri." Bapak tertawa melihat wajah simbok yang bibirnya semakin manyun.
"Siapa juga yang mau benerin, orang simbok hanya cari di mana yang bocor. Eh, ternyata ..., astaga Pak!" seru simbok baru tersadar akan temuannya.
"Astaga! Ada apa, Mbok?" Bapak reflek berlari mendekati simbok. "Ada ular?" tanya Bapak yang hafal kalau istrinya paling takut dengan binatang melata ini.
"Ular, ular! Dengar dulu, coba Bapak lihat sini," simbok menunjuk pipa bawah wastafel. Bapak mengikuti arah telunjuk simbok dan tidak mengerti apa yang dimaksud.
"Pipanya kenapa, Mbok? Gak ada apa-apa ini?" polos Bapak menjawab.
"Lha justru gak kenapa-kenapa itu justru yang kenapa-kenapa."
"Banyak banget kenapanya, Mbok?" usil Bapak.
"Ih, malah bercanda. Seriusan dong, Pak."
"Lho? Ya berarti bagus dong, Mbok kalau pipanya gak bocor. Enggak perlu dibenerin. Gitu to?"
"Kalau pipa tidak bocor, terus air yang menggenang tadi dari mana, Bapak?" geregeten simbok menjelaskan ke Bapak yang santai saja.
"Ya, mungkin kemarin simbok cuci piring dan airnya tumpah. Bisa kan? Atau gendhuk lagi mainan air, lupa gak matikan keran, atau ...," mata Bapak melirik ke kanan dan kiri seakan berpikir sejenak.
"Atau jangan-jangan rumah ini ada hantunya, Pak!" simbok mendelik dan berlari ke belakang punggung Bapak. Takut.
"Yaelah, Mbok. Matahari sudah mentereng gini mana ada hantu."
Simbok tak mengidahkan ucapan Bapak. Baginya genangan air yang telah membuatnya terjatuh merupakan misteri yang menakutkan.
"Mbok?" tetiba gendhuk sudah berada di antara mereka.
"Iya. Sudah bangun, Ndhuk. Sana segera wudhu dan salat," sahut simbok. Gendhuk hanya mengangguk kemudan menuju kamar mandi. Sementara Bapak memilih berganti baju di kamar. Simbok? Masih penasaran dengan asal muasal genangan air, ia pun kembali berjongkok di bawah bak wastafel.
"Cari apa, Mbok?" Gendhuk penasaran dengan tingkah simbok. "Oh ya, Mbok. Air dingin dalam botol semalam habis. Pas Ndhuk minum, gak sengaja botolnya jatuh. Tumpah semua isinya. Ndhuk takut cari pel malam-malam makanya gak Ndhuk lap." ujar Gendhuk dengan polosnya.
Simbok? Sengaja membenturkan jidat ke tembok demi pengakuan polos gendhuk yang merasa tak berdosa.
"Ndhuk gendhuk"