Menepi sendiri sepertinya memang hal yang pas untuk gendhuk saat ini. Di sana, di ayunan kayu tua yang telah berjamur kini tubuhnya berada. Hati dan pikirannya tak bisa beriringan meski sudah dicoba berulang.
"Argh, memang semua hanya sayang Al. Gak ada yang perhatian sama Ndhuk lagi!" gendhuk melempar kerikil dengan kesal.
"Apa-apa Al. Orang yang datang, cari Al. Bawa kado juga untuk Al. Gak ada yang bawa untukku," kerikil berikutnya terpelanting mengenai pagar. "Prang!"
"Ndhuk, apa-apaan sih? Siang-siang begini bikin ribut saja?!" teriakan cempreng khas simbok langsung bergema.
"Nah, kan. Salah lagi!" Ndhuk menyahut ketus namun tak bisa terdengar simbok. Gendhuk hanya bisa menggerutu dengan lirih. Kesal hatinya kian menggunung.
Sementara dari arah teras, gendhuk mendengar suara seret sandal. Secepatnya gendhuk berusaha berdiri dari ayunan dan mengambil sandal.
"Cepetan sebelum kena marah lagi," bisik gendhuk pada dirinya sendiri.
Namun ternyata, "Sudah tahu jam segini kok yo tidak segera mandi. Sukanya terburu-buru. Mepet waktunya. Simbok yang capek. Harus ngebut ngantarnya. Sana segera mandi. Awas, gak usah main air!" serentetan omelan meluncur lancar ke arah gendhuk.
Sebenarnya ingin sekali gendhuk membalas tapi takut kualat. Menurut ilmu yang sudah dipelajari, seorang anak tidak boleh berkata kasar kepada kedua orang tuanya. Berkata "ah" saja tidak diperkenankan, apalagi pembelaan diri?
"Nah, kan salah lagi," sungut gendhuk lirih.
"Kok diam? Kalau orang tua memanggil itu didengerin dan dijawab. Jangan diam saja!" marah simbok sudah naik ke level 9, marah total dengan capai satu ons. Pedas.
"Iya," jawab gendhuk malas.
"Nah seperti itu. Jadi Mbok tahu kalau kamu sudah mendengar perintah simbok. Enggak ngomel sendiri," masih saja suara simbok terdengar menggelegar.
"Inggih," gendhuk sedikit menaikkan nada suaranya. Naik turun deru nafasnya menahan gejolak karena merasa disalahkan terus.
Sepuluh menit berlalu.
"Ndhuk, sudah belum mandinya? Lama sekali. Mainan ya? Sudah setengah empat ini lho. Nanti kamu terlambat ngajinya."
"Iya, iya. Ini juga sudah selesai," gendhuk keluar dari kamar mandi berbalut handuk besar menjawab dengan lirih.
"Lha? Memang handukmu kemana? Kok pakai handuk Bapak?" omel simbok begitu tahu gendhuk memakai handuk bukan miliknya.
"Lupa gak bawa," datar gendhuk menjawab. Tapi ternyata justru memancing emosi simbok.
"Lupa kok berulang kali!  Itu namanya memang tidak niat." Simbok mengikuti gendhuk menuju kamarnya. Memastikan gendhuk tidak mampir mainan.
"Ya ampun, Ndhuk. Ini kamar apa kapal pecah? Berantakan sekali." Lagi. Simbok marah-marah lagi.
"Kalau naruh barang itu pada tempatnya tidak main lempar gini. Anak perempuan mbok ya belajar rapi, bersih tidak jorok seperti ini," simbok auto menggelegar begitu masuk kamar pribadi gendhuk. Berantakan pol. Tas sekolah tergeletak di tepi kasur busa dengan buku-buku berserakan di dekatnya. Baju kotor terlempar asal di sekitar ranjang baju  di pojok kamar. Juga mainan yang tersebar hampir di seluruh penjuru kamar.
Lagi-lagi gendhuk hanya diam.
"Coba simbok bilangnya seperti ini 'Ndhuk sudah pukul tiga, gih segera mandi agar tidak telat,' gini. Lemah lembut dan tidak pakai ngomel-ngomel, pasti dengan senang hati Ndhuk menaati instruksinya." lirih gendhuk bicara sendiri sambil memakai seragam.