"Tingtong ... tingtong" suara alarm dari gawai simbok berbunyi, tepat pukul 03.00 dini hari. Spontan tangan simbok meraba-raba samping bantal tidurnya. Meski tanpa membuka bola mata, jemari simbok lincah menekan layar gawai. Tak lama bunyi itu pun berhenti.
Setengah menit kemudian, simbok mulai menggeliat. Menarik sendi-sendi yang telah 5 jam diistirahatkan oleh si empunya. Menggeser posisi tubuh menjadi menyandar di bahu ranjang.
Simbok mulai membuka-buka berbagai aplikasi di gawainya, mulai dari jejaring sosial ber-icon salah satu huruf berlatar biru kemudian beralih ke ikon kamera, dan terakhir aplikasi berkirim pesan dengan background warna hijau. Klik sana, klik sini. Buka tutup, buka lagi. Scroll atas, scroll bawah sampai tak terasa sudah masuk waktu salat Subuh.
Sayup terdengar adzan dari surau dekat rumah.
"Uh, cepat sekali waktu berjalan kalau aku lagi santai gini." Simbok tak menyadari si Bapak sudah terbangun dan bersandar di sampingnya.
"Pagi-pagi sudah nyanyi, Mbok?" sindir Bapak.
"Eh, Bapak. Ngagetin Simbok saja." Pandangan simbok tak beralih dari gawai. "Ini lho, Pak. Sekarang kok waktu terasa cepat sekali ya. Simbok baru baca statusnya teman-teman, eh sudah adzan saja."
"Eit, gak boleh bicara gitu. Sudah tutup gawainya, wudhu terus salat," tegur Bapak sambil beringsut menuruni ranjang menuju kamar mandi. Tak lama kemudian sudah terdengar gemericik air dari kran.
Simbok hanya melirik kepergian suaminya, tangannya tetap tak lepas dari aplikasi sosmed.
"Lho, Mbok? Sudah taruh dulu gawainya, keburu habis waktu salat Subuhnya." Bapak berganti baju dan memakai sarung, bergegas pergi ke surau.
***
"Ndhuk, Simbok mana?" tanya Bapak sekembali dari surau dan hanya mendapati gendhuk saja yang di dapur, menggoreng telur untuk sarapan.
"Tadi Ndhuk lihat ke kamar, Simbok masih tidur, Pak. Apa Simbok sakit?" Gendhuk tanya balik.
Bapak mengeryitkan dahi lalu menuju ke kamar.
"Astagfirullah, Mbok ... Mbok. Bapak kira tadi terus bangun dan salat. Ini malah mimpi lagi." Bapak membuka selimut yang menutup tubuh Simbok. "Mbok, ayo bangun. Sudah hampir habis waktu salatnya!" Bapak mengguncang pundak simbok.
"Klotak ...." Terdengar benda jatuh.
"Ehm, ini penyebabnya," Bapak memungut sesuatu lalu menyimpan di bawah tumpukan baju dalam lemari.
"Uhhh ...," Simbok menggeliat.
"Eh, Bapak. Sudah bangun?" tanya simbok yang membuat Bapak tepok jidat.
"Mbok, ini sudah pulang dari surau. Gendhuk juga sudah oprek di dapur goreng telur. Lha Simbok?" geram Bapak.
"Lho ...? Eh? Lho? Dimana?" celingukan mencari sesuatu. Bantal-bantal dibolak-balik, tangan menyusur setiap permukaan kasur namun Simbok tak menemukan yang dicari. Kolong ranjang pun tak luput dari pencarian. Simbok jumpalitan mengintip setiap sisi namun tak membawa hasil.
"Huh, mana ya? Seingatku tadi ku pegang," simbok menggumam sendiri. Matanya kembali menyusur setiap inchi ranjang.
Bapak hanya senyam-senyum lalu pergi meninggalkan simbok yang lagi sakaw karena gawainya hilang.
"Rasain!" seru hati Bapak.