"Wah, pasti bangga ya punya anak seperti Kak Dea. Sudah cantik, sopan, berprestasi lagi. Juara 1 olimpiade matematika se-kabupaten," seru Nyonya Anwar pada Bu Rudi sambil menyalami Dea yang baru saja turun dari podium untuk menerima piala.
Ibu Rudi hanya tersenyum menanggapinya. 
"Bagi resepnya dong, Bu Rudi. Bagaimana Kak Dea bisa pintar gini."

Pernahkah sahabat Mei memiliki pemikiran yang sama dengan Nyonya Anwar? Ingin tahu caranya agar mempunyai anak yang berprestasi?

Sebenarnya, prestasi anak bisa dibangun dari rumah. Hasil didikan orang tua. Melalui perlakuan yang diberikan kepada buah hati. Ada beberapa tahapan yang bisa orang tua lakukan agar potensi anak melejit dan berprestasi.

Pertama, mengenali karakter anak. Apakah dia termasuk yang suka berkompetisi atau tidak. Jika tiep anak yang suka berkompetisi maka sebuah motivasi akan membangkitkan semangat uangnya, namun sebaliknya motivasi akan membuatnya ketakutan kalau termasuk tipe yang ogah berlomba.

Kedua, berikan motivasi dengan mengakui prestasi-prestasi kecil yang telah dicapainya. Misalnya saat anak sudah bisa menali sepatunya sendiri, "Wah hebat, Nak. Kamu sudah bisa menali sepatumu sendiri" sambil memberikan sebuah senyuman dan tepukan di pundak tentu ini akan membuatnya semakin percaya diri. Selanjutnya dia akan menghasilkan prestasi yang lebih besar lagi. Lagi dan lagi. 

Ketiga, jika pun ternyata sebuah kegagalan yang dialami anak jangan pernah memarahinya. Berikan pertanyaan mengapa sampai terjadi kegagalan dan dengar jawabannya.
"Kemarin sudah bisa menali sendiri,  kenapa sekarang tidak bisa lagi ya, Nak. "
Pertanyaan ini bukan ditujukan untuk menghakimi tapi sebagai pembelajaran ke depannya agar tidak melakukan hal yang sama sehingga diharapkan tidak lagi terjadi kegagalan dengan kesalahan yang sama. 

Keempat, sepayah apapun anak jangan pernah membandingkan dengan anak yang lain, apalagi saudara. Hal ini bisa melukai harga dirinya. Membuatnya semakin jatuh mental. Jika toh ingin membandingkan, bandingkanlah dengan pencapaiannya sendiri.
"Kemarin kamu sudah bisa menali sepatu lho, Nak. Sekarang kok lupa lagi? Ayo diingat lagi kemarin bisa, bagaimana caranya."

Kelima, jangan mengklaim bahwa prestasinya adalah hasil kerja keras kita, orang tua, atau guru. Seringkali tanpa sadar kita bilang ke anak "Wah, anaknya siapa dulu dong, Anak Mama gitu lho!" Seolah prestasi itu bukan berkat kerja keras anak, tetapi karena "anak Mama".

Anak berprestasi tentulah dambaan setiap orang tua, hanya saja prestasi itu tidak selalu tentang piala atau medali. Jadi, setiap anak pasti berprestasi hanya saja berbeda bidangnya.