Guru Ratna #5

"Tolong ...! Bu Ratna tolong ...!" suara teriakan mengagetkan perempuan lajang yang baru satu semester mengabdi sebagai guru honorer sekaligus ditunjuk melatih Pramuka ini. 

Disandarkannya sepeda motor dan mencari sumber teriakan. Setelah yakin suara berasal dari arah toilet siswa, ia pun berlari ke sana.

"Hai, apa yang kalian lakukan?" matanya melotot melihat kejadian yang terpampang di hadapannya. Amarahnya langsung memuncak.

"Sini kalian semua!" suaranya menggelegar mengagetkan tiga anak yang sedang mengepung Deva. Dua diantaranya diam terpaku  tak bisa bereaksi saking terkejutnya, sementara seorang lainnya berhasil kabur berlari menyusur pematang sawah belakang sekolah yang memang belum berpagar.

"Ehm ... bukan saya, Bu. Sa ... saya hanya diajak tadi."
"Saya juga tidak, cuma disuruh bantu pegangin saja," gagap kedua anak laki-laki menjelaskan tanpa diminta. Seakan mereka tahu dengan cara memberitahu terlebih dahulu dapat menghapus kesalahan yang mereka lakukan.

"Huhuhu ... huhu ... sakit, Bu."
"Iya, Deva. Coba jelaskan ke Ibu, apa yang terjadi?" direngkuh tubuh Deva yang sesenggukan.

"Ya Allah, apa yang terjadi sebenarnya dengan anak-anak ini. Apa yang harus aku lakukan? Aku bertanggung jawab atas kejadian ini. Apa? Aku harus bagaimana?"

Keringat dingin mulai mengalir di kening Ratna. Degup jantung rasanya lambat berdenyut sehingga menyesakkan dada. Begitu juga udara di sekitar seakan tak mau masuk ke lubang hidungnya, susah bernafas. Gugup menanti penjelasan Deva. Takut membayangkan kejadian yang tadi jelas dilihatnya Deva merintih dan berusaha melepaskan diri dari ketiganya. Panji. Ya, anak itu yang mendekap Deva sambil jemarinya ... ah, tidak. Tak sanggup dibayangkannya.

"Panji ngrempon lagi, Bu. Mamad dan Doni ikut juga. Huhuhu ... hu ...."
"Benar, Mad? Don?"
"Tidak, Bu. Saya tidak melakukannya. Tadi Panji yang sudah pegang. Saya cuma lihat saja," Mamad gusar dengan penjelasan Deva. Ia tak mau disalahkan, meski dia tadi sudah sedikit menikmatinya.
"Iya, Bu Ratna. Saya dan Mamad cuma diajak Panji. Tadi hanya lihat daja," mata Doni melirik sekilas ke arah Deva. Memelas meminta Deva mengiyakan penjelasan mereka berdua.
"Lihat apa?! Tadi kalian juga ikut pegang-pegang."
"Eng...enggak Bu. Benar. Saya dan Doni gak ngapa-ngapain Deva."

Ratna melihat kegelisahan keduanya. Dipandang keduanya lekat-lekat mencoba mencari kebenaran dari sorot mata anak-anak di depannya. Perlahan disentuh bahu ketiganya dan mengajak duduk di tepi teras kelas menghadap ke taman. Diam.

"Kalian lihat itu," menunjuk serombongan ibu-ibu yang lewat depan sekolah.
"Ibu tidak tahu, diantara mereka ada ibu kalian atau tidak. Tapi coba lihat. Baju mereka penuh dengan lumpur, mungkin juga tubuhnya. Keringat juga membasahi punggung yang seharian terjemur terik matahari. Pinggang tentu sangat capek harus membungkuk berjam-jam. Berangkat Subuh setelah memasak untuk sarapan anak-anaknya. Mereka juga membersihkan rumah, menyapu, memberi pakan ayam, atau ada juga yang harus menimba air demi penuhnya isi bak mandi," ditariknya nafas perlahan. Ekor mata melirik Mamad dan Doni yang duduk di kanan-kirinya. Mata Mamad mulai berkaca-kaca.

"Untuk apa mereka mau berpanas-panas dan bekerja sedemikian keras?" hati Ratna terhanyut teringat ibu bapaknya yang telah renta. Membayangkan kedua tangan bapak yang hitam legam karena kepanasan saat mengairi tanaman di sawah. Teringat ibu, setiap kali ia bangun sudah tersaji sarapan meski hanya sambal terasi dan tempe goreng. Diusapnya buliran bening yang menganak di sudut mata.

“Kalian tahu? Ya, mereka. Bapak Ibu banting tulang agar kalian bisa sekolah yang tinggi. Menuntut ilmu dan jadi anak yang mereka banggakan."

"Tidak, Bu. Ampun, saya minta maaf. Jangan sampaikan ini ke bapak. Saya mohon, saya minta maaf." Tiba-tiba Mamad besimbah di depan Ratna. Air matanya bercucuran tak terbendung. Mamad menangis.
"Janji tidak akan mengulangi lagi. Deva maafkan aku. Kamu boleh pukul asal kamu mau memaafkanku."
"Iya, Dev. Maafkan aku juga. Aku janji tak akan mengulangi lagi. Maaf ya? Doni pun tak kalah panik." Diciumnya tangan Ratna kemudian menjulurkan tangan kanan ke Deva untuk meminta maaf.

Sementara jauh di sebuah rumah petak 3x4 meter dengan dinding semi permanen, Panji merutuk kecerobohannya.
"Sialan. Goblok sekali aku. Harusnya menunggu guru itu pulang dulu." Dilemparnya baju coklat muda yang baru dilepas ke sudut kamar yang penuh tumpukan baju kotor. Segera ia duduk di tikar usang yang menjadi tempat tidurnya bersama kedua kakak laki-lakinya selama ini. Punggung disandarkan ke tembok bata merah tanpa plesteran. Matanya terpejam mengingat kembali kejadian di dekat toilet sekolah tadi.

"Ah ... sial," geramnya sambil meremas jari-jari tangan. Matanya terbuka dan tanpa sengaja menangkap benda kecil mengkilap di bawah tumpukan seragam. Seketika senyum terkembang di wajahnya. Bangkit mengambil benda yang kembali membuatnya semangat.

(bersambung) 

Posting Komentar

1 Komentar

  1. Setingkat SMA kah mereka? Sepantaran dg Deva y? Kok panggil nama?
    Bagus mb, langsung konflik 👍👍😊

    BalasHapus

Terima kasih telah bersantai di dwiresti.com. Mohon tinggalkan komentar yang membangun dan tidak berbau SARA.