Guru Ratna #6

"Sialan. Goblok sekali aku. Harusnya menunggu guru itu pulang dulu." Dilemparnya baju coklat muda yang baru dilepas ke sudut kamar yang penuh tumpukan baju kotor. Segera ia duduk di tikar usang yang menjadi tempat tidurnya bersama kedua kakak laki-lakinya selama ini. Punggung disandarkan ke tembok bata merah tanpa plesteran. Matanya terpejam mengingat kembali kejadian di dekat toilet sekolah tadi.

"Ah...sial," geramnya sambil meremas jari-jari tangan. Matanya terbuka dan tanpa sengaja menangkap benda kecil mengkilap di bawah tumpukan seragam. Seketika senyum terkembang di wajahnya. Bangkit mengambil benda yang kembali membuatnya semangat.

"Ini yang kucari," gumam Panji setelah memasukkan kepingan bundar ke DVD. Senyum seringai menghias wajahnya. Lamat alunan suara dalam adegan di film membuat keringatnya membanjir. Ada sensasi lain yang dirasakan dan membuatnya ketagihan.

Setelah puas, tergesa disembunyikan kaset yang dipinjam kemarin di bawah tumpukan baju. Kemudian bergegas mencari gitar kecil dan tas cangklong. Menuju perempatan tempat biasanya ia mangkal mengumpulkan puing-puing rupiah sampai larut malam. 

"Panji, kita ngobrol sebentar ya?" dijejerinya langkah murid yang baru saja datang. Sengaja Ratna datang lebih awal dari biasanya dan menunggu Panji. Menurut cerita Doni kemarin, Panji memang datang ke sekolah paling pagi dan selalu menggoda anak-anak perempuan yang baru datang.
Sikap Panji yang hanya melirik dan tetap terus berjalan membuat jengah. Selama 6 bulan mengajar di sekolah ini, Ratna hanya menangkap bahwa Panji adalah sosok anak yang tidak antusias belajar, suka membuat onar, dan sering tidak masuk. Selebihnya tidak pernah berinteraksi di luar jam pelajaran.

"Ibu yakin ada alasan kamu melakukannya kemarin," dihentikannya langkah kaki. Pandangannya menatap sosok tinggi kurus yang kini beberapa langkah di hadapannya. Panji berhenti dan mendengarkan.

"Kamu mau kan menceritakannya?" senyum kecil ia hadirkan untuk meyakinkan Panji bahwa dirinya adalah sosok yang bisa dipercaya dan nyaman untuk tempat bercerita. Namun dugaannya salah. Bukannya mau bercerita, Panji justru pergi meninggalkannya diiringi senyum sinis.

"Dia tidak pantas dihadapi dengan kelembutan, Ratna. Kamu berhak memarahinya. Sikapnya sudah kurang ajar kemarin. Harusnya kamu hukum dia, bukan seperti ini," perang batin yang sejak kemarin dialami Ratna. Sisi lain hatinya percaya bahwa Panji sebenarnya adalah anak yang baik, keadaan yang membuat berkelakuan seperti sekarang ini.

Anak-anak lain berdatangan. Sekolah mulai ramai. Ratna meletakkan tas di ruang guru kemudian kembali duduk di teras kelas. Diamatinya suasana pagi ini. Banyak anak laki-laki yang telah datang kemudian asyik bermain bola di halaman. Hanya beberapa murid perempuan yang sudah datang dan duduk-duduk di teras sambil menunggu bel masuk.

Dari gerbang sekolah, nampak Deva datang bersama dua teman perempuan. Ratna melirik jam tangan di pergelangan kiri, pukul 06.55. Sesuai intruksinya. Ratna segera berdiri dan menuju ruang guru. Tak lama kemudian bel masuk pun berbunyi.

"Eh, tumben kok sudah bel?" ucap salah seorang murid yang sempat terdengar telinga Ratna. Ia pun tersenyum. Memang bunyi bel masuk tepat pukul 7 adalah hal yang jarang di sini. Sebelumnya mereka akan masuk paling pagi sekitar pukul tujuh seperempat atau setengah delapan. Bukan karena belum ada guru yang datang, hanya saja para bapak ibu guru terlebih dahulu mengobrol di kantor sambil sarapan sebelum pergi ke kelas. Ratna sekilas juga menangkap tatapan penuh tanda tanya di wajah guru-guru namun ia abaikan dengan segera pergi kelas 5. Dia ada jam mengajar di jam pertama.

"Stop!" teriak Panji menghadang sepeda motor yang dikendarai Ratna saat melintas area persawahan tak jauh dari sekolah setelah pulang. Karena kehadiran Panji yang tiba-tiba muncul dari pematang sawah, sepeda motor Ratna sedikit oleng ketika tiba-tiba harus menarik rem. Beruntung tidak sampai jatuh.

"Apa-apaan kamu, Panji. Lihat Ibu hampir saja jatuh." Ratna menepikan motor. Kecemasan tiba-tiba menjalar ke seluruh tubuh. Panji berani menghadangnya di tengah sawah dandalam  keadaan jalan sepi. Bayangan kejadian saat Panji mendekap Deva membayang di depan mata. Dilihatnya Panji semakin mendekat dan dia tahu wajah itu menyiratkan sesuatu.

(bersambung) 

Posting Komentar

1 Komentar

Terima kasih telah bersantai di dwiresti.com. Mohon tinggalkan komentar yang membangun dan tidak berbau SARA.