Pict from pixabay edit by Meitantie
Samar terdengar lengkingan klakson di perlintasan beratus meter dari arah kiriku , pertanda sebentar lagi kereta segera melintas. Kulirik seberkas sinar bergerak mendekat dan semakin menyilaukan ekor mata. Getaran halus terasa menggelitik telapak kaki yang mencoba tegar di tengah hembusan angin malam. Hawa dingin memaksa jemari mengepal dan sebuah tarikan napas panjang berhasil melegakan seiring hitungan mundur dari lisan tak berbunyi. Lima, empat, tiga, dan aaahhh ... selamat tinggal dunia. 

"Gila kamu!" makian itu jelas terdengar. Tidak. Tidak mungkin. Mana bisa seorang masinis berteriak sekencang ini. Tapi,
"Gila kamu, memang mati bakal selesaikan masalah? Mikir!" lagi makian itu terdengar. Oh, tidak. Kukira setelah mati tidak ada lagi orang yang memaki. Hidup tenang tanpa gangguan dari siapa pun. Ternyata? Perlahan kubuka mata, penasaran siapa yang menyambut kedatanganku di alam kematian ini dengan makian.
"Apa lihat-lihat?" sosok bermata elang ini mengapa di sini? Ah, apa mungkin di alam ini juga ada orang semacam Amung?
"Mikir itu pakai otak jangan pakai dengkul," lagi dia memakiku. Kasar dikibasnya lengan bajunya yang robek, dan ih lihatlah.
"Darah," kutunjuk lengan tangannya yang berubah menjadi merah. Darah mengucur dari balik kain bajunya.

***

Sosok itu tetap saja berdiri di sana. Di ujung gang sempit pinggir rel kereta api, 200 meter barat gubug reyot ibu. Seakan diri ini buronan dalam incaran, selalu diawasi setiap gerak gerik agar tak kehilangan jejak. Jengah juga dibuatnya.
"Apa sih maumu?" terengah napasku melabraknya. Namun lihat, hanya senyum sinis yang terlontar dari mulutnya.
"Heh, jangan main pergi saja. Memangnya aku buron yang harus dimata-matai? Hei, jangan pergi! Hei dasar lelaki gila!" sumpah serapah keluar begitu saja dari mulut. Entahlah, perasaan kesal dan sumpek membuat gampang emosi dua bulan terakhir ini.

Seketika langkahnya berhenti dan berbalik 180 derajat. Mata itu, mata elang yang pernah menyelamatkanku di perlintasan kereta api. Oh tidak, dia mendekat dan terus maju. Apa yang harus kulakukan? Selangkah lagi sudah tepat di depanku, tapi dia tetap melangkah. Memaksa beringsut ke belakang beberapa langkah dan terhenti oleh pagar.
"Ap ... apa yang kamu lakukan?" kupejamkan mata saat wajahnya menunduk dan deru napas jelas terasa di wajah.
"Makan biar bayi di perutmu tak kelaparan," ucapnya lalu berlalu melenggang meninggalkanku.
"Hei, siapa kamu? Kenapa kamu tahu kehamilanku?"
"Jaga saja, awas kalau kenapa-kenapa lagi!" sahut leleki itu tanpa sedikitpun menoleh.

"Siapa dia? Mengapa tahu aku sedang hamil?" perlahan kuusap perut yang mulai membuncit. Kelebat kejadian tiga bulan lalu kembali nyata di hadapan. Genggaman erat di kedua pergelangan tangan dan juga kaki masih bisa kurasakan. Bekapan itu, sosok berpenutup kepala yang dengan paksa menanamkan benihnya.
"Ahhh, tidak! Tolong!" tubuhku tersungkur menyandar pada pagar bata. Ingatan ini ingin sekali kuhapus namun tetap saja ada. Membekas kuat dalam sadar atau ketidaksadaranku.

"Nduk, kamu tidak apa? Ini Mbok Nduk. Ayo kita pulang," simbok menuntun tubuh tinggi semampaiku yang lemas. Perempuan renta inilah alasanku untuk bisa kembali kuat menjalani hidup yang penuh noda kelam ini.

"Mbok, mengapa Tuhan begitu tidak adil padaku? Aku sudah digariskan hidup susah, aku pasrah. Aku bisa  dengan ikhlas. Masih kurangkah kesusahan yang diberikan? Mengapa ditambah lagi dengan jabang bayi ini lagi?"
"Hus, tidak boleh ngomong seperti itu. Justru karena Tuhan sangat sayang makanya kamu diujiNya terus. Tuhan ingin kamu terus mendekat dan meminta padaNya."  Lagi-lagi kalimat ini yang menjadi jawaban simbok kala aku berontak. Juga saat lelaki bermata elang itu mengantarku pulang setelah percobaan bunuh diriku berhasil digagalkannya.

Siapa dia? Lelaki itu yang selalu mengawasi rumah ini. Dia juga tahu aku hamil. Siapa? Atau jangan-jangan dia adalah ...? Tidak, tidak mungkin. Lelaki itu tidak mempunyai mata seraham elang. Bukan, bukan dia ayah bayi ini. Semakin keras ku mengingatnya sosok ini, mengapa dia seakan sudah pernah bersua sebelumnya.

"Mbok, bagaimana kalau kita pindah rumah? Aku ingin melupakan semuanya. Memulai hidup baru."  kepala ini bersandar pada pahanya. Lama tak terdengar  jawaban dari Emak.
"Nduk, ini