Matinya Jayus

"Kamu itu pendidikannya apa? Berani-beraninya mencalonkan diri jadi kades. Ngaca to, Kang ... Kang'" bariton pak Jayus bak sebilah samurai. Menyayat tipis namun perih luar biasa. Pun yang dirasakan Parto, pemuda tani desa Mengko lulusan SMA sepulang mengambil formulir pendaftaran calon kepala desa. Sama halnya yang dilakukan pak Jayus, kades yang sebentar lagi purna tugas dan menginginkan jabatan ini lagi.

"Modalmu seberapa? Mau jual rumah, hah?" seringai sinis sekaligus merendahkan yang hanya ditanggapi Parto dengan senyuman kemudian meninggalkan tanpa mengucap sepatah kata pun.

"Wo dasar cah gemblung, enggak punya adab dengan yang lebih tua!" Wajah pak Jayus merah padam karena merasa tak digubris. Sumpah serapah terlontar dengan brutal membuat panitia pilkades menoleh ke sumber suara.

Suasana desa Mengko mulai panas karena perseteruan dua kubu, pro pak Jayus melawan relawan Parto. Perselisihan secara sembunyi bahkan terang-terangan. Saling menjelekkan sampai main fitnah. Timses bergerak saling senggol tak kenal haluan. Teman jadi musuh, tetangga jadi tersangka, bahkan keluarga pun terpecah.

"Le, apa tidak sebaiknya kamu mundur saja?" bu Lasmi mengalihkan pandangannya dari mesin jahit kuno peninggalan almarhum suaminya kepada wajah anak bungsunya.

"Bu, Parto tidak punya modal apa-apa. Ijazah juga cuma SMA, apalagi uang. Kalau Ibu tak ridho, apalagi yang Parto punya? Semua tergantung doa dan ridho dari Ibu." Parto meraih kedua telapak perempuan lewat setengah abad di hadapannya, kemudian menciumnya. Takdzim.

Masa kampanye dimanfaatkan Parto dengan sungguh-sungguh. Dibantu relawan yang mayoritas kaum muda, langkah Parto ke kursi nomor wahid di desa Mengko seakan tinggal selangkah lagi. Visi misi yang mengusung keterbukaan pengelolaan dana desa serta pengembangan potensi desa menjadi angin segar bagi masyarakat yang selama ini dibisukan oleh penguasa lama.

Sementara di rumah pak Jayus sudah melakukan open house dengan sajian berbagai hiburan. Mulai dari khasidahan, campursari, jaranan, hingga pagelaran wayang. Semua warga yang hadir dijamu dengan aneka menu pun juga sedikit 'sangu' yang disisipkan para tangan kanan di balik sebungkus rokok atau kotak jajan.

Antusiasme warga menghadiri dan meononton aneka hiburan membuat pongah si empunya rumah. Yakin jabatan kades bisa dikuasainya lagi.

"Ini semua yang datang diberi sangu, Pak?" tanya Prawito ketika breafing suatu sore sebelum open house dimulai.
"Berapa itu sangunya?"
"Biru, Pak." jawab salah satu timses sambil mengacungkan segebok uang bergambar tari Legong.
"Hem, semuanya. Yang positif beri dua."

Semakin malam, rumah bergaya Belanda itu kian ramai. Aroma aneh tak kalah menyelimuti malam itu. Hanya beberapa kepala yang menyadari keanehannya.

Kamis wage, tanggal 15 Safar pukul 6 dini hari TPS sudah rame baik petugas pemungutan suara maupun timses dari kedua pihak juga warga yang antusias. Terdapat mini panggung dengan sepasang kusi yang diletakkan terpisah sebagai tempat para calon kepala desa duduk. 

Parto datang mengenakan kaos polo putih, celana jiens warna krem serta sepatu warna senada hasil pinjam dari salah satu simpatisan. Sementara di kursi sebelah nampak laki-laki hampir 68 tahun tengah melonggarkan dasi merahnya.

"Satu, sah!"
"Satu, sah!"
Terus melesat nomor milik Pak Jayus tanpa henti. Sepuluh, empat puluh, hingga berhenti di angka tujuh ratusan. Sumringah tergambar di wajah pak Jayus. Hingga akhirnya keringat bak biji jagung menembus jas hitamnya.

"Baiklah, Bapak-Ibu surat suara tinggal tujuh lembar. Mari kita buka dengan seksama!" Petugas penghitung surat suara tampak sedikit terburu-buru membuka surat suara penentu akhir.

"Dua, sah!"
"Dua, sah!"
Terus dan terus, sampai akhirnya terdengar suara berdebam karena sebuah benturan. Panitia panik, segera dilepaskan jas hitam yang membungkus tubuh. Berbagai usaha sia-sia, akhirnya segera dilarikan ke IGD. 
"Maafkan, kami sudah berusaha semaksimal mungkin, namun Tuhan menakdirkan lain." Dokter pun pergi meninggalkan ruang operasi.




Posting Komentar

0 Komentar