Sejak kapan cupit panah asmara menghantuiku, aku pun tak tahu. Yang kuingat hanyalah dia sungguh memesona mata dan hati ini. Nadiku selalu berdegup kencang, lebih kencang dan semakin kencang lagi saat menatap bulat kokoh rahang wajahnya. Sendiku terasa kelu, bergetar seakan lumpuh tak mampu menopang raga kala mencium wangi keringat yang membanjir. Sungguh, aku tak mampu menghapus namanya di sanubari pun otak warasku.

“Kang Seno, haruskah aku mati karenamu?”  perlahan kusandarkan kepala pada jendela yang menghadap pohon di seberang jalan. Tumbuhan yang sangat kubenci sejak tertawannya hati ini padamu. Rindangnya daun tak bisa lagi menyejukkan mataku, akar-akar yang menghujam tanah seakan menusukkan sembilu di kalbu dan memainkan kata peringatan “Jangan pernah main-main denganku!” Hijau merah yang menggerumbul seakan menertawakan keresahan diri ini. Sungguh, sungguh aku tak ingin lagi melihat pohon itu.

Srek ...!
Kasar kutarik sehelai tirai transparan jendela, berharap pohon itu tak terlihat lagi. Kalau bisa untuk selamanya. Lenyap, tak ada lagi di muka bumi ini atau setidaknya di desaku.

Perlahan kuseret langkah kaki menuju kamar mandi, berharap guyuran air sedikit meringankan kalut pikiran dan gundah sanubari. Ritual pagi yang sebulan terakhir ini selalu kulakukan, mandi keramas di tengah dinginnya air setara es. Gemetar tubuh, gemeletuk gigi, serta kusut kulit jemari tak lagi menyurutkan niat demi sebuah ketenangan batin, meski hanya semu. Setidaknya aku merasa tenang setelah tubuh kuyup. Beban seakan ikut larut dalam gelembung sabun.

“Laras, kau mandi keramas lagi?” teriak ibu terdengar di telingaku. Pasti akan marah-marah lagi.
“Ras?” ibu lagi-lagi berteriak.
“Iya, Bu. Sebentar lagi juga selesai.” Segera kuselesaikan membilas busa sampo di rambut hitam sepinggang. Mengakhirkan ritual kesukaan lebih cepat dari kemarin.
“Sudah dibilangin jangan mandi keramas setiap pagi, susah amat diingatkan!” rentetan omelan ibu membombardir saat baru kulongokkan sebagian kepala keluar kamar mandi.
“Memang kenapa to, Bu. Bukannya rambut jadi tambah bersih?” eyelku kali ini, masih sama seperti sebelumnya.
“Hus, pamali!” telunjuk ibu sudah tepat berada di keningku. Mengetuk sedikit keras. Tuk.

Sudah. Aku tak bisa lagi berkata jika bertemu satu kata ini, pamali. Kata sakti yang sangat aku taati sejak kecil. Kata yang mengharuskan tunduk, patuh tanpa sebab. Apapun itu jika sudah diembel-embeli kata ini pasti kutaati. Entah aku sendiri juga tidak paham. Seingat memoriku jika sesuatu sudah dikatakan pamali maka tak seorangpun berani melanggarnya. Lurah sekalipun akan mati langkah. Apalagi jika berkaitan degan tradisi. Budaya. Sudah. Sakti mandraguna, siapapun tak berani berhadapan.

“Dengar kamu, Laras?” tanya ibu membuyarkan lamunan.
“Iya, Bu. Laras ijin ke kamar dulu,” segera kubawa kaki menuju ruang kecil tempatku mencurahkan segala rasa.
“Cepetan ganti bajunya, sudah jam setengah tujuh. Kamu belum sarapan, jangan seperti kemarin.”
Ibu tetap saja omelan ini menjadi sarapan pagiku. Bisa tidak sehari saja tanpa mengomeliku? Baru kemarin saja aku terlambat dan ibu sudah berulang-ulang mengungkitnya.

Sepuluh menit kemudian aku sudah selesai sarapan.
“Duh Gusti, Ras, Laras. Kamu itu pakai baju apa? Kerja di pasar kok pakai rok span dan blouse, apa mau jadi kura-kura saat melayani pembeli? Lelet karena gak bebas gerak,” ibu mencebik.

Ibu, tak tahukah ibu apa yang kurasakan ini. Aku tak ingin tampil seadanya saat bertemu Kang Seno. Aku harus cantik di hadapannya. Aku jatuh cinta, bu. Tahukah ibu? Itu membuatku ingin tampil sempurna kala di dekatnya.

Tanpa kuperhatikan lagi omelan ibu, kuraih tas kresek berisi bekal makan siang dan menuju pasar tempatku bekerja menjadi pelayan toko sembako. Hanya butuh waktu 5 menit untuk ke sana dan lagi-lagi sosok yang kubenci akan kutemui . Pohon Lo di seberang jalan. 

***

“Ras, kamu jangan main-main dengan kisah pohon itu. Pamali.” Lagi! Kata itu kudengar. Kali ini dari Warti, temanku kerja.
“Kamu bicara tentang apa, War? Pohon? Pohon apa?” aku pura –pura tak menangkap maksud pembicaraan.
“Alah, jangan sok gak tahu kamu, Ras. Semua orang di pasar ini juga tahu kalau kamu sama Kang Seno ada main mata. Kalian saling suka ya?”

DEG. Kulirik sekilas wajah Warti. Tatapan dan mulut Warti menginsyaratkan ketidaksukaan.
“Ingat Ras. Kutukan itu terus berlaku sampai kapan pun. Kita tak akan bisa dinikahi oleh laki-laki dari desa sebelah. Pamali.” Tiba-tiba Warti menggenggam lenganku, mencekeram sehingga terasa sedikit sakit. Aku tahu, Warti sahabatku sejak masih ingusan ini sangat takut dengan pamali. Bukan hal aneh, karena kakeknya adalah seorang juru kunci di makam desa. Usia kakek Warti sudah hampir seabad. Tentu sangat paham betul kisah yang melibatkan pohon Lo itu.

Bukannya menanggapi omongan Warti, pandangan mataku kini teralihkan oleh kehadiran sosok yang bertubuh atletis, kulit sedikit gelap, dan bau ini, sungguh bau yang mulai kuhafal meski berjarak berpuluh meter jauhnya. Kang Seno. Aku yakin, Kang Seno pun merasakan getar yang kurasakan kini. Lihatlah, dia tersnyum.

“Oh, Kang. Sungguh manis senyumanmu,” tanpa sadar kalimat ini keluar dari mulut. Warti mengikuti arah pandangan mataku.
“Sadar, Ras. Ingat kutukan pohon Lo.” Warti meraih wajahku dan memalingkan dari Kang Seno. Sekilas sempat kulihat senyum Kang Seno. Hei, Kang Seno tersenyum padaku.
“Ra! Sudah kuingatkan jangan dilanjutkan. Kamu tidak boleh menerima kutukan seperti Lanjar. Jangan sampai, Ras. Jangan!” Sekuat tenaga kupalingkan wajah dari Warti. Lama-lama muak juga mendengar peringatan darinya.

“Ras, nanti sepulang kerja kuantar kamu menemui Mbah Darwis. Biar kamu dengar sendiri dari orangnya tentang kisah Lanjar dan Wadat, kutukan asmara mereka.”
Tak, aku tak ingin mendengarnya langsung, kasak-kisik orang sekitar saja sudah membuatku hampir gila.
“Tidak, War. Aku tak ingin mendengarnya. Aku sudah tahu kabar itu,” kutepis tangan Warti di pundakku. Kulihat Warti terkejut, sepertinya tidak meyangka reaksiku barusan.
“Kalau kau sudah tahu, lantas kenapa tetap saja kau teruskan, Ras?” ada genangan air di mata Warti. Bulshit, dia tahu aku tak akan tega melihatnya menangis. Cerdas kau, War.

***

Sore ini, senja seakan malu menampakkan wajahnya lama-lama. Segera dia bersembunyi di balik sunyinya sang rembulan. Pukul 17.30 WIB aku dan Warti sudah berada di dekat kuburan itu. Sungai besar mengiringi barisan nisan yang melintang. Terdapat dua cungkup pangiyup yang terletak di makam terdalam. Dan di sinilah kisah itu dimulai.

Mbah Darwis, kakek keriput degan uban memenuhi rambut kepalanya menatapku tajam. Sorot matanya seakan mengorek-ngorek isi hatiku. Seakan diri ini adalah pesakitan yang harus segera dimusnahkan.

“Kau masih nekat ingin bersamanya?” tanpa basa-basi pertanyaan itu menohokku.
“Eng, anu, Mbah,” kering, tenggorokanku tetiba tercekat. Kemana keberanian yang kukumpulkan sebelum ke sini tadi?
“Lanjar mati mengenaskan karena bersikeras sepertimu.” Telunjuk Mbah Darwis menuntun mataku ke nisan tua di bawah cungkup. Hanya tertulis sebaris kata “Lanjar” padanya. Entah, bulu kuduk mulai meremang, hawa sintrum kurasa semakin mencekam. Temaram lampu pijar di gerbang makam menghadirkan bayang, lengkap sudah.

***

“Tidak Nyai Lok, aku sangat mencintaimu. Tapi aku bisa apa? Jika rama dan biyung melarangku menikahimu?”
“Tapi Kang, apa sebabnya? Apa kurangku?” Nyai Elok Saraswati menahan sesak yang membuncah di dada. Kemelut cintanya seakan semakin berat dengan ucapan kekasihnya barusan, Kang Candrajati.

Sehari sebelumnya, nyai Lok juga bersitegang dengan rama dan biyung. Mereka pun menentang keberadaan dirinya yang kasmaran dengan sosok Kang Jati. Nyai Lok rela menentang mereka karena yakin dengan tambatan hatinya. Dia pikir akan sangat mudah menjalani liku kisah asmara mereka jika saling menguatkan, menggenapkan tekad akan saling memperjuangkan.

Tapi kini? Apa yang bisa dia lakukan? Sosok tempatnya berserah memintal kasih juga rapuh. Menyerah sebelum berjuang. Layu setelah bersemi. Melihat kemudian dipaksa menutup kelopak. Selangkah berjalan namun kaki dijeruji.

“Kang, kau yang menaruh umpan lalu incaranmu tertawan dalam kail, bergejolak menggelegak meminta pertanggungjawaban. Mengapa tak jua kau pungut? Mengapa kau tega menyiksanya? Aku tak bisa lepas, Kang. Umpanmu begitu dalam menancap. Raihlah, Kang. Tidak bisakah kau berjuang bersamaku? Tidakkah kau mau menjadi sandaranku saat aku lelah berlari? Kang Jati?”

Tak satu pun ucap terbalas. Sosok lelaki yang menawan hati Nyai Lok seakan mati rasa. Tersenyum. Sungging akal keling di rona wajahnya.
‘Kang Jati, jangan pergi. Aku bisa mati tanpamu. Kang!” Nyai Lok menggapai tubuh yang beringsut meninggalkannya. Seakan moksa sekejap mata. Candrajati pergi entah kemana, tak ada satu pun yang bisa menemukannya setelah hari itu.

“Nyai, sudahlah. ayo kita pulang. Rama dan Biyung sudah legawa menerimamu lagi. Pulanglah, Nduk,” lelaki lebih separo abad itu kembali membujuk putri semata wayangnya untuk pulang. Sudah hampir sepasar nyai Lok berdiam diri di bawah pohon dengan akar menjulur liar itu. Pohon yang dianggap pohon para leluhur berdiam diri. Pohon yang menjadi pantangan untuk ditebang. Mereka percaya jika ada pohon yang ditumbangkan maka akan terjadi bencana melanda. Jika tidak kekeringan maka kebalikannya, banjir bandang.

“Nyai, ayo kita pulang.” Tak ada sahutan dari Nyai Lok. Tatapan matanya tak lepas ke arah barat, arah tenggelamnya mentari, arah langkah Kang Jati terakhir dilihatnya.

Keberadaan nyai Lok yang tak kunjung pergi membuat masyrakat memanggilnya dengan “Lanjar” yang artinya perempuan bujang yang tidak menikah disebabkan kepergian “Wadat” lelaki yang membujang.

Istilah ini semakin membuat rama dan biyung putus asa. Selapan hari tak kunjung berhasil membawa putrinya pulang maka mereka berinisiatif selalu menggantungkan ceret berisi air dan sebungkus makanan pada akar-akar pohon Lo tempat nyai Lok bersimpuh. Demikian sampai berbulan-bulan. Tahun berganti tahun hingga akhirnya, suatu temaram senja didapati tubuh Nyai Lok sudah tak bernapas lagi.

Sejak saat itu, masyarakat sekitar mewanti-wanti anak turun mereka agar tidak ada yang menjalin asmara antara timur pohon tempat bergantung ceret dengan bagian baratnya. Mereka percaya jika pantangan itu dilanggar maka nasib yang sama akan terjadi seperti kutukan asmara Jati – Elok.

***

“Itulah sebabnya rumahmu dan sekitarnya disebut Loceret. Pohon Lo tempat menggantung ceret air untuk nyai Elok. Sementara di barat pohon sebagai tempat lenyapnya Candrajati bertebaran tunas pohon jati sehingga dinamai Jatirejo,” tutur Mbah Darwis.
“Ada pantangan turun-temurun bahwa tidak boleh menjalin asmara atau pernikahan anatara orang Loceret dengan Jatirejo karena dipercaya akan berakhir tragis, entah kematian atau banyaknya godaan dalam rumah tangga.”

Warti melirikku yang hanya diam. Seakan meyakinkan bahwa pilihan terbaik adalah melupakan Kang Seno.

“Kalau sudah terlanjur menjalin asmara bagaimana, Mbah?” pancing Warti yang ditanggapi sorot tajam mata mbah Darwis. Aku yang sedari tadi hanya menyimak sedikit mendongakkan kepala, penasaran degan jawaban yang akan diberikan.
“Lupakan! Kecuali siap mati atau hidup sengsara.”

JLEB. Beban berat seakan menimpa pundakku. Tubuh luruh bersandar pada punggung Warti yang duduk di depanku.

“Kang Seno, maafkan aku,” lirih kuucap teriring linangan air mata membasah pipi.

(Tamat) 

***

Nganjuk, 6 Oktober 2019
Meitantie

Ditulis berdasar kisah asal-muasal Desa Loceret yang telah diimprovisasi sesuai imajinasi penulis guna memenuhi tantangan ke-4 Komunitas ODOP bacth 7.