Sebuah Pelajaran dari Naina

Selalu saja seperti ini, suasana alun-alun Nganjuk menjadi tempat ngabuburit idaman bagi para pejuang puasa kala Ramadhan. Bukan tanpa alasan, berbagai pilihan menu berbuka tersaji menggiurkan mengalapkan mata. Mulai dari aneka gorengan, es, jajan pasar, lauk pauk, sayur hingga segala tetek bengek menyambut hari raya dua pekan lagi. 

Rindangnya pohon beringin di tengah serta penjuru juga menarik hati untuk sekedar lesehan di bawahnya sembari bercengkerama menunggu detik dipukulnya sang bedug, pertanda dibolehkannya mencicipi berbagai rasa. Manis, asam, asin, gurih, terkadang juga pahit.

Pahit. Mungkin seperti rasa ini yang dialami gadis berambut panjang dengan baju lusuh serta sebuah kantong tersampir di pundak itu. Matanya terfokus pada setiap ceceran sampah yang ditinggalkan para pengunjung. Berharap ada sebuah gelas air mineral di sana  syukur jika botol yang ditinggalkan. Naina, begitu orang memanggilnya. Gadis 11 tahun yang tak pernah lelah menyusur sepanjang jalan Ahmad Yani hingga ke alun-alun. Memulung. 

"Ini beneran buat saya, Mbak?" Naina mengangkat bungkusan kresek berisi nasi bungkus, es kolak, serta tiga biji kurma di hadapan seseorang yang sedang berbagi takjil.
"Iya, Dek. Puasa?"
Naina hanya tersenyum. Setiap hari hampir seluruhnya dijalani dengan puasa oleh keluarganya. Bisa makan sehari sekali dengan nasi beras saja sudah makanan mewah baginya. Ini? Nasi beras lengkap? Sungguh sangat spesial baginya.
"Alhamdulillah, beneran?" sekali lagi Naina memastikan. Sebuah senyuman dan acungan jempol menjawab ketidakpercayaan gadis ini. 

Lima menit kemudian adzan masjid Jami Baitussalam berkumandang. Naina membuka karung dan mengambil botol air yang dibawa dari rumah.
"Lho, Dek kok gak dimakan nasinya?"
"Ehm, itu. Eh gak apa-apa. Terima kasih nasinya ya, Mbak. Pasti adik saya sangat senang."
"Eh, adik? Kamu punya adik?"
"Iya, ada. Tiga." Naina menutup mulut menyembunyikan senyum gelinya. 
"Apa? Tiga? Wah tidak cukup nanti makanannya kalau dibagi berempat dengan Kamu."

"Mbak, saya mau diajak kemana? Saya harus balik biar pulangnya tidak kemalaman. Maaf ya, Mbak." Naina berusaha melepaskan gamitan tangan si embak.
"Sebentar saja, Dek. Pilih makanan yang kamu suka. Mbak traktir, Mbak yang bayar. Yuk dipilih,"
"Bapak selalu bilang kalau saya dan adik-adik tidak boleh meminta-minta agar harga diri tetap terjaga."
"Oh. Kalau begitu tunggu sebentar. Sebentar saja." segera berlari menuju gerobak nasi yang terparkir di sisi selatan alun-alun.

"Mbak gak capek? Jauh lho tadi jalannya?" tanya Naina pada embak yamg mengekor pulangnya. 
"Hehehe, iya sih capek. Jadi malu. Kerjamu kan lebih berat tapi tak kudengar keluh kesah dari mulutmu." keduanya tersenyum lalu melanjutka setengah perjalanan lagi menuju tempat Naina beristitahat.

Si embak terkejut begitu samapai, tidak seperti angannya. Hanya ada satu sepeda motor dengan dua bojok di boncengan serta sebuah sepeda plos tanpa atribut apapun lagi. Seorang ibu duduk berselonjor tangah asyik memilah sampah sehingga tak menyadari kehadiran putrinya.

"Mak, lihat.!" Naina menunjuk kantong plastik di depannya.
"Kamu dapat darimana? Minta-minta? Semiskin apa pun kita, jangan sampai meminta-minta."
"Iya, Bu. Tadi ketemu Mbak Cantik ini di alun-alun. Enggak tahu kenapa lalu memberi  nasi bungkus ini." Jelas Naina menjawab dengan semangat. Si Mbak kemudian mengulurkan tangan kanan hendak bersalaman.

Si Mbak hanya mampu menangis tersedu mendengar kisah keluarga gadis 11 tahun ini. Masih sering sambat capek kala ada ujian kecil menimpanya. Naina yang harus rela tidak bermain dengan teman-temannya demi sesuap nasi di malam hari. Naina dan adik-adiknya yang harus kuat berpuasa setiap hari karena tidak adanya makanan. Tak lama, sebuah mobil keluaran terbaru berhenti di hadapan mereka kemudian menganjak semuanya segera naik.
"Terima kasih, Nak sudah membuat anak-anak kami tersenyum bahagia dengan berbagai hidangan ini.  Semoga segala amal ibadahmu diterima Allah. Diparingi sehat dan hidup yang berkah. Aamiin"

Posting Komentar

2 Komentar

Terima kasih telah bersantai di dwiresti.com. Mohon tinggalkan komentar yang membangun dan tidak berbau SARA.