Akhir bulan September kemarin dibuat gempar dengan adanya berita seorang ibu dan dua orang kakak melakukan pembunuhan dan hubungan seks terhadap adik perempuannya. Kasus yang terjadi di Bogor ini menjadi sorotan karena antara para pelaku dan korban masih satu keluarga. Selain itu umur sang adik perempuan juga sangat muda, 5 tahun. Miris sekali.

Pernahkah terlintas di benak kasus seperti ini akan kita alami? Atau anggota keluarga yang menjadi pelaku atau korban?

Tentu kita semua berharap dan senantiasa berdoa jangan sampai kejadian pelecehan seksual atau bahkan pembunuhan menimpa pada diri ini, keluarga, atau orang-orang di sekitar kita. Jika pun boleh sedikit ekstrem, tentu kita berharap kasus semacam ini tidak lagi terjadi terhadap siapa pun dan kapan pun. Cukup kemarin dan tidak terulang lagi.

Pertanyaannya, sudahkah kita mengantisipasinya? Apa yang sudah kita lakukan untuk menjadi tameng agar terhindar kasus semacam ini?

Kenyataan di lapangan, sebagian besar orang tua masih belum pernah memberikan edukasi seks pada putra-putri mereka. Masih menganggap seks adalah hal tabu dibicarakan dengan anak. Sering kita mendapati orang tua ketika anaknya mulai bertanya tentang seks ditanggapi dengan marah dan memintanya diam tidak bertanya hal itu lagi.
"Ssst Pamali! Masih kecil, belum boleh!" Benar?

Alih-alih anggapan mereka akan tahu dengan sendirinya seiring bertambah umur. Termasuk pemikiran sahabat Mei-kah ini? Semoga tidak.

Jika mau menelisik, sebenarnya tabu tidaknya pendidikan seks kepada anak tergantung bagaimana kita mendefinisikan pengertian seks itu sendiri. Otak kanan atau otak kiri yang dipakai. Arti kata 'seks' menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) adalah jenis kelamin, hal-hal yang berkaitan dengan jenis kelamin.

Mari kita runut, anak kecil kisaran 2 tahun (saat dia mulai bisa bicara dan aktif bertanya) kira-kira terpikir tentang seks dalam artian sebuah hubungan badan atau tidak? Sudah punya memori jika bicara seks berarti membahas nafsu berahi? Jawabannya 100% tidak. Lantas siapakah yang membuat mereka berpikir seks itu tabu, seks itu harus dihindari dalam pembicaraan? Tentulah kita sebagai orang tua dan pendidik lah yang membuatnya demikian. Otak kananlah yang dipakai.

Coba jika menggunakan otak kiri saat menjawab pertanyaan anak atau memberikan penjelasan yang berkaitan dengan seks. Saat menjelaskan kelamin tentu yang keluar adalah pengetahuan yang terkait ilmu sains. Seks menjelaskan tentang apa itu kelamin perempuan dan apa itu kelamin laki-laki. Seks berkaitan dengan apa itu pembuahan dan perkembangbiakan.

Bicarakan seks dengan biasa saja dan netral. Tonjolkan pengetahuan sains di dalamnya.

Contohnya?
Vagina. Jika kita bahas dengan pendekatan sains tentu yang dimaksud adalah organ tubuh yang membedakan antara perempuan dan laki-laki. Tunjukkan mana bagian tubuh yang disebut vagina (jika anak perempuan) atau mana penis (jika anak laki-laki) sehingga dia paham dirinya masuk jenis perempuan atau laki-laki. Jika diajarkan seperti ini, kelak saat menemui hal berbeda pada orang lain (saudara atau teman, misalnya) maka yang terpikir adalah perbedaan jenis kelamin.

Jadi sahabat Mei, mari berpikiran seks pada anak bukan lagi hal tabu jika dibicarakan dengan pemikiran ilmu pengetahuan, pendekatan sains, dan dalam tekanan yang biasa dan netral agar anak-anak kita mendapat wawasan yang tepat dan tidak terjerumus pada pengertian seks yang menjerumuskan.