Pengemis?
Apa sih yang akan terbayang di benak sahabat Mei ketika mendengar kata yang satu ini?

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) pengemis adalah kata turunan dari kata 'kemis' yang artinya minta (asalnya dilakukan pada hari Kamis). Kalau secara umum artinya pengemis adalah orang yang meminta-minta.

Hari ini kebetulan ketika mengikuti pengajian ibu-ibu sedang membahas tentang pengemis ini. Menurut kitab yang diterjemahkan oleh Bapak Kyai Ibnu (guru kami dalam kajian) bahwa mengemis (meminta-minta) dikenai hukum haram atau dilarang kecuali dalam keadaan darurat. Sama halnya dengan hukum ketika memakan bangkai, haram pada awalnya namun menjadi diperbolehkan ketika keadaan darurat. Misalnya saat kelaparan dan tidak ada makanan lain kecuali bangkai tersebut dan dikhawatirkan akan meninggal jika tidak memakannya. Demikian juga dengan mengemis, jika sudah tidak ada lagi jenis pekerjaan lain yang bisa dikerjakan maka barulah diperbolehkan. Itupun tidak secara berkelanjutan.

Nah, berdasarkan pengalaman seringkali para pengemis masih sangatlah muda, bertenaga, dan seharusnya masih bisa mengerjakan pekerjaan lainnya. Benar?

Pernah suatu kali, datang ke rumah seorang lelaki perkiraan usia 40an tahun, (maaf) tidak cacat, tenaganya juga terlihat kuat membawa tas slempang dan menengadahkan tangan sambil berkata "permisi, Buk," kemudian menyanyikan lagu Sepanjang Jalan Kenangan hanya bagian reffnya saja. Berat hati ini untuk berdiri dan memberikan sekedar koin 500an padanya. Yang ada malah rasa geram. Teringat bapak yang tua renta saja masih pergi ke sawah mengayun cangkul demi sesuap nasi. Ini? Muda dan kuat malah meminta-minta.

Samakah sahabat Mei? Suka geram pada pengemis muda?