Dy sayang, apa kabarmu?
Jangan tanya aku, Dy. Ah, masih juga kau tanyakan.
Aku? Kuharap baik juga tapi tidak nyatanya, Dy. Tak seperti dirimu yang kuat dan tangguh menghadapi hidup. Tak sehebat dirimu yang mampu mendengar dan menerima semua  cerita kehidupan dengan tenang dan damai. Aku tak baik-baik saja, Dy.

Kamu tahu kan, hari ini aku menemuinya lagi. Menyapa dan melihat kabarnya. Menanyakan keadaannya. Tentu berharap dia mau menyambutku dengan baik, menerima dan bersahabat. Menyenangkan dan memberiku kabar yang indah.

Nyatanya? Kamu tidak akan mengira perlakuannya hari ini, Dy. Semua yang kuberikan tak dibalasnya dengan baik. Tidak, tidak sama sekali. Bukan, bukan aku mengharap balasan darinya. Tapi aku juga punya perasaan, Dy. Kamu tahu itu. Aku juga butuh dihargai. Setidaknya sebatas yang pernah kulakukan padanya. Benar kan? Apa aku salah?

Dy, maafkan. Aku jadi emosi kepadamu. Aku hanya kesal , Dy. Dia tak menghiraukanku. Dia menganggap aku adalah sosok yang harus segera ditiadakan. Aku adalah musuhnya, lawannya yang harus secepatnya diserang dan dienyahkan.

Kamu tahu, Dy? Baru tadi kutahu bahwa dia sudah benar-benar menyerangku, semua yang kupunya dikuasainya. Semua yang penting bagiku, Dy. Semuanya  dihancurkan. Tak ada satu pun yang tersisa. Sungguh itu membuatku putus asa, membuatku merasa tak berguna lagi.

Dy, bolehkah aku menyerah saja? Bolehkah aku menerima semua perlakuannya? Mengikuti kemauannya? Lelah, Dy. Aku sudah lelah. Semua yang kulakukan serasa sia-sia, tak ada gunanya. Pengorbanan yang kuberikan sedikit pun tak mengubah keganasannya, brutalnya. Dia semakin menjadi-jadi. Sepertinya dia tak terima semua perlakuanku. Dia balas dendam dan berkata “Rasakan pembalasanku karena semua perlakuanmu padaku. Rasakan!”

Sungguh, Dy ini sangat menyakitkanku. Aku tak kuat lagi. Tolong aku, Dy. Aku harus bagaimana? Apa yang harus kuperbuat lagi? Semua usaha dan saran sudah kulakukan. Nyatanya hari ini aku mendapat kabar bahwa dia semakin merajalela, meyerang semua milikku yang berharga dengan berita “Ibu, maafkan. Kami sudah berusaha, namun berdasar hasil pemeriksaan hari ini, sel kanker telah menyebar ke paru-paru dan hati. Jalan yang bisa ditempuh adalah dengan kemoterapi.”

Telak. Aku sudah kalah darinya, Dy ....