Guru Ratna #8

"Belum ada guru di sekolah yang tahu akan hal ini. Tapi mohon maaf, saya harus menceritakan ke sekolah karena masalah ini harus diselesaikan dan melibatkan semua guru serta wali murid."

Pukul 14.00 Ratna pamit undur diri setelah disepakati jalan keluar antara keduanya.

Ada rasa hormat ketika pak Mono dan istri menelepon pihak pabrik untuk ijin tidak kembali bekerja hari ini. Mengutamakan menyelesaikan permasalah anak mereka, Doni.

Ada nafas lega yang Ratna rasakan. Esok, ia akan melihat anak-anak seperti semula. Kembali ke dunia sesuai usianya.

Secangkir teh hangat menemaninya menikmati cahaya purnama di balik jendela kamar malam ini. Tidurnya akan pulas menyongsong keceriaan esok.

***

"Baiklah, nanti kita akan adakan rapat darurat sepulang sekolah membahas hal ini. Bu Ratna siap-siap menyampaikan permasalahannya di hadapan teman-teman," putusan kepala sekolah setelah Ratna menceritakan semua.
"Baik, Pak. Semoga segera disepakati solusinya."

Ratna pamit undur diri dari ruangan kemudian kembali ke meja kerjanya. Tanpa Ratna sadari ada tatapan yang sedari awal menunjukkan ketidaksukaan. Bom waktu nampaknya akan segera menghitung mundur, bersiap melululantakkan apa saja yang ada di sekitar.

Waktu terasa berjalan sangat lambat bagi Ratna. Keinginan segera menyelesaikan masalah seakan menghambat dentingan jarum jam bergerak maju.

"Ah, mengapa aku gelisah seperti ini? Tenang Ratna, semua akan cepat selesai dan baik-baik saja.” Ratna mencoba tarik nafas panjang kemudian memejamkan mata mencoba menata hati.

"Bu Ratna? Bu?" Doni membuyarkan lamunan Ratna, ia sudah berdiri di samping meja guru.
"Eh, iya Don. Ada apa?"
"Ehm, kemarin Ibu ke rumah? Ada apa?" selidik Doni.
"Iya. Tidak ada apa-apa hanya ingin kenalan dengan ibu bapakmu saja," dipandangnya wajah murid di depannya, Doni seakan tidak menyukai kehadirannya kemarin bertamu ke rumah.
"Untuk apa?"
"Ya itu tadi, ingin kenalan saja. Memang tidak boleh ya, Ibu kenal degan ibu bapak Doni?" Ratna balik bertanya, ia tidak ingin diintrogasi murid pendiam ini.
"Ya boleh saja. Tapi kenapa tidak bilang dulu ke Doni? Biar bisa disiapkan rumahnya, tidak berantakan seperti kemarin."
"Memang ibu bapak tidak cerita apa-apa ke Doni?"
"Tidak, hanya bilang tadi Bu Ratna datang. Tidak cerita apa-apa."
"Oh, ya sudah. Ada lagi?" berharap Doni menceritakan sesuatu.
"Hem, Panji tidak masuk hari ini. Bolos. Dasar anak cemen, sepertinya dia takut karena ketahuan kemarin, Bu." Ratna mengerutkan dahi, terkejut mendengar keberanian Doni mengatai Panji, namun segera bisa menguasai diri.
"Takut?"
"Iya, takut kalau saya menceritakan semuanya," Ratna mendengarkan saja tanpa memotong cerita Doni. Ratna pikir ada sebuah informasi yang bisa diambilnya nanti.
"Setelah Ibu pergoki kemarin. Saya, Mamad, dan Deva dihadang Panji saat pulang. Diancam akan dicelakai kalau sampai menceritakan semuanya ke Ibu. Dia akan main keroyok dengan teman-teman premannya yang biasa mangkal di perempatan.”
"Tunggu ... tunggu, menceritakan semuanya? Semuanya tentang apa?" potong Ratna.
"Eh," Doni menutup mulutnya, seakan tersadar bahwa telah keceplosan. Bola matanya bergerak ke kanan kiri tak beraturan, mencoba mencari jawaban yang pas.
"Ehm, tidak Bu. Tidak ada apa-apa. Say ... saya kebelet pipis, permisi," berlari keluar menuju ke kamar mandi, menghindar.

Ratna semakin yakin ada sesuatu yang lebih besar yang belum ia ketahui. Mencoba menerka apa yang sebenarnya terjadi. Namun otaknya buntu, tak bisa diajak kompromi berpikir jernih. Gelap, tak ada gambaran sama sekali kemana arah pembicaraan Doni barusan.

(bersambung) 

Posting Komentar

3 Komentar

Terima kasih telah bersantai di dwiresti.com. Mohon tinggalkan komentar yang membangun dan tidak berbau SARA.