"Ini penantian apa? Saya menunggu Suamar yang membingungkan. Saya juga menunggu anak saya lahir, tapi saya takut ...! Saya benar-benar merasa sendiri, buk No ...! Padahal saya ingin anak saya lahir tidak seperti saya. Saya harus merawatnya, saya harus menyusuinya! Tapi saya ingin Suamar menemani saya. Cuma itu keinginan saya, buk No. Cuma itu!"
(Matahari di atas Gilli - hal 79)

Sepenggal pelampiasan penantian seorang perempuan bernama Suhada yang tengah mengandung sembilan bulan terhadap suaminya, Suamar. Kepergian suami sejak hamil sebulan yang tak kunjung pulang pun memberi kabar membuat hati Suhada mengemban rindu yang dalam. Belum lagi sebuah kekhawatiran jelang persalinan.

Tak ada yang bisa dilakukan dengan perut yang kian membesar dan tubuh yang bertambah payah selain menanti kepulangan sang pujaan dengan duduk menanti di tepian dermaga hingga jelang senja. Seakan ingin menyampaikan salam rindu melalui angin serta ombak lautan yang menjadi jarak pemisah keduanya. Suhada tak ingin anaknya terlahir seperti dirinya yang tak mengenal siapa orang tuanya. 

Perempuan asal Sukabumi yang diboyong ke pulau Gilli ini masih sedikit bersyukur, ada buk No sang ibu angkat yang sangat perhatian bak ibu kandung, ada kedua orang tua Suamar yang tak luput menjenguk dan membawakan udang bakar, serta masih bisa terhibur kala mengajar di sekolah meski gedungnya telah runtuh.

Semangatnya untuk memajukan Gilli dengan mengajar baca tulis dan berbahasa Indonesia menemui rintangan sama berat dengan lakon hidupnya, tetapi Suhada pantang menyerah. Ia tetap meyakinkan warga akan pentingnya anak-anak bersekolah. Dirinya sempat trenyuh kala ada seorang muridnya bertanya, "Apakah Gilli juga Indonesia? Kok Gilli tidak ada di peta?" Inilah nasionalisme yang terus dipupuk Suhada.

"Novel ini juga menggugat ketidakadilan dalam pendidikan yang dialami banyak daerah terpencil di sekitar pulau Jawa, dibandingkan dengan keadaan di kota-kota besar. Ketidak adilan seperti itu akan lebih banyak dan lebih parah dialami oleh daerah yang lebih jauh dan lebih terpencil, khususnya di luar Jawa" ungkap Ir. Sholahuddin Wahid dalam statementnya untuk buku ini. 

Kisah pun berlanjut hingga hujan yang telah lama dinantikan membasahi tanah Gilli, kabar kepulangan Suamar sampai ke telinga Suhada. Senyum riang terpancar di sana. Penantian segera menemui ujungnya.

Hari kepulangan telah tiba, penantian di dermaga tidak lagi membawa keluhan berganti menjadi harapan. Harapan segera berjumpa, harapan dapat ditemani sang suami kala persalinan. Nahas, hujan rupanya membawa badai di lautan. Suamar tak bisa menyeberang dan lagi-lagi tanpa memberi kabar.


Matahari di atas Gilli sebuah karya Lintang Sugianto setebal 225 halaman yang diterbitkan oleh Bima Rodheta Indonesia. Tak tanggung-tanggung, W.S. Rendra sebagai kata pengantarnya.

"Inilah keistimewaan Lintang dalam kemampuannya melukiskan peristiwa jiwa. Barangkali dalam hal ini hanya bisa ditandingi oleh Leila Chudori, yang secara kebetulan juga seorang perempuan" (W.S. Rendra untuk novel Matahari di atas Gilli) 

Kelihaian sang penulis dalam merangkai kata dipadukan dengan deskripsi latar tempat, sosial, dan budaya masyarakat Pulau Gilli (dalam cerita ini yang dimaksud penulis adalah Pulau Gilli Ketapang, Probolinggo) yang akurat membuat saya harus menitikkan air mata kala menemui sad ending. Mengaduk-ngaduk perasaan seolah kejadian tragis itu benar-benar di depan mata.

Menurut saya novel ini sangat recomended untuk dibaca meski terbitan tahun 2004.