Cerita pendek yang akan kita ulas kali ini besutan penulis kondang asal kota Tuban, Hiday Nur yang dimuat pada laman ngodop.com edisi 6/I/Agustus 2019. Meski sang penulis lebih condong ke genre non fiksi, ternyata lihai juga dalam memilih diksi menjadi sebuah cerita yang cukup ringan, mengalir, dan tentunya penuh hikmah yang dapat diambil sebagai sebuah pelajaran.

Karena merupakan genre fiksi jenis cerita pendek, maka kita akan ulas dari segi unsur intrinsik dan ekstrinsik. Namun sebelumnya perlu diketahui pengertian dari unsur intrinsik dan ekstrinsik itu sendiri. 

Unsur intrinsik adalah unsur pembangun cerpen yang berasal dari dalam cerpen itu sendiri. Sementara unsur ekstrinsik adalah unsur-unsur cerpen yang berada di luar karya sastra. 

Baiklah, mari kita ulas satu per satu, dimulai dari unsur intrinsik.

1. Tema 
Hiday Nur kali ini mengangkat tema tentang hubungan sosial yang sangat rentan untuk dibahas. Namun ternyata dalam cerita ini bisa disajikan dengan apik dan mengena. Opening yang ringan, seakan membicarakan kehidupan sehari-hari pada umumnya tetapi berhasil membawa pembaca larut untuk terus membaca hingga selesai.
Pada bagian ending diberikan semacam shock therapy. Pembaca akhirnya akan berkata, "Oh ternyata membahas tentang kekuasaan." Lugas dan bisa diterima logika.

2. Alur
Penggunaan alur maju dengan sedikit tarikan flash back membawa pembaca mudah mencerna tahapan peristiwa yang terjadi. 

3. Latar
Latar tempat tidak digambarkan dengan detail di sini, hanya disebut sebuah kampung yang terdapat kepala suku dan warga. Apakah kampung ini di daerah perkotaan, pedesaan, ataukah pelosok belum tergambar jelas mengingat nama-nama tokoh yang digunakan seperti Tuan Hugo dan Chickgo tidak lazim digunakan di Indonesia. 
Namun, latar suasana dapat dirasakan dengan jelas. Perkampungan yang damai dengan warga yang hidup saling mengenal dan rukun. 

4. Tokoh dan perwatakan
Tuan Hugo yang pada awalnya berwatak positif (suka menghibur, dermawan, baik hati) ternyata di akhir cerita dituliskan menyimpan sifat di luar dugaan. Demikian juga dengan sang anak, merupakan peniru yang ulung sehingga mempunyai watak yang sama.
Tokoh tambahan yaitu sang kepala suku hanya sekilas saja digambarkan, namun sudah cukup mengantar pembaca untuk bisa mengidentifikasi seperti apa tokoh ini.

5. Point of View
Penulisan cerita dengan mengambil POV 3 merupakan sudut paling aman dan bisa menyusur semua lini tokoh.

6. Ejaan Bahasa Indonesia (EBI) 
Penulis sudah lihai nampaknya dalam kaidah penulisan sesuai EBI jadi tidak butuh tenaga ekstra untuk mengerti makna tiap kalimat. 

7. Amanat
Secara eksplisit cerita ini memberi sebuah nasehat bahwa segala sesuatu tidak sepenuhnya akan kita ketahui, ada kalanya kita paham tapi di lain waktu tak mengerti sama sekali. Inilah kehidupan yang masih penuh dengan misteri.

Bagaimana dengan unsur ekstrinsiknya?

Tak banyak unsur ekstrinsik yang diambil oleh penulis. Sejauh pengamatan hanya ada unsur latar belakang masyarakat yakni berkaitan dengan perhelatan akbar agenda negara tentang pemilihan kepala negara. Belum lama agenda nasional ini usai mungkin menjadi sumber inspirasi tersendiri bagi penulis.

Unsur ekstrinsik kedua adalah nilai moral yang hendak diangkat menjadi pesan akhir dari cerita ini.

Demikian sedikit ulasan sebuah cerita pendek yang tayang di laman ngodop.com. Semoga di lain waktu bisa mengulas cerita-cerita lain dengan berbagai keunikan masing-masing.