Menuliskan persamaan dan perbedaan tradisi di Indonesia dengan setting tempat dari buku yang dibaca merupakan tantangan level 3 dalam event Reading Challenge ODOP (RCO) batch 7 kali ini. Sejujurnya, saya masih ragu menuliskan hal ini mengingat minimnya pengetahuan dalam mengenal tradisi di Indonesia jika disandingkan dengan Arab Saudi terutama Mekkah dan Madinah yang merupakan setting tempat dalam novel Aisyah Ibunda Kaum Mukmin karya Kamran Pasha yang saya pilih sebagai buku terjemahan sesuai standart tantangan. Jadi mohon dikoreksi dan diberi masukan jika ada kekurangtepatan dalam penulisan saya ini. 

Mekkah dan Madinah adalah dua daerah yang terletak di negara Arab Saudi, termasuk negara di benua Asia Barat. Sebagaimana kita ketahui, Arab Saudi merupakan negara dengan mayoritas penduduknya beragama Islam sama dengan Indonesia.
Melaksanakan ibadah haji dan umroh dengan tata cara, waktu, dan tempat yang sama. Bahkan merayakan hari raya Idul Fitri dan Idul Adha di waktu yang sama pula. Tanggal 1 Syawal dan 10 Dzulhijah pada setiap tahun hijriahnya. Hal ini karena menganut ajaran agama yang sama, Islam. 

Hanya saja, negara Arab Saudi menerapkan hukum syariat Islam sebagai sistem pemerintahan dengan seorang raja sebagai pucuk pimpinan sementara di Indonesia sistem yang digunakan adalah sistem presidensial dimana puncak kekuasaan merupakan amanah dari rakyat melalui pemilihan umum.

Inilah yang menjadi perbedaan mendasar antara Arab Saudi dengan Indonesia. Raja-raja Arab Saudi merupakan sosok-sosok dari garis keturunan yang sama. Ada putra mahkota yang kelak akan mewarisi puncak kekuasaan. Sementara di Indonesia siapa saja bisa berpeluang menjadi kepala negara asalkan telah memenuhi syarat dan menang dalam pemilu dengan perolehan suara terbanyak.

Perbedaan lainnya adalah tatkala memasuki bulan Ramadhan, bulan penuh berkah, ampunan, dan ladang subur mengamalkan ibadah. Menurut banyak sumber yang telah mengalami Ramdhan kareem di Mekkah maupun Madinah, setiap kali masuk bulan Ramadhan maka berbondong-bondong orang mukmin akan meninggalkan perniagaan demi lebih khusyuk melakukan ibadah. Bertaburan truk-truk pengangkut makanan dan buah untuk makan sahur dan berbuka puasa. Secara serentak toko-toko atau pusat perbelanjaan akan sepi ketika masuk waktu shalat, mereka akan bergegas menuju masjid-masjid terdekat. Seakan teramat sayang meninggalkan keutamaan shalat berjamaah apalagi di bulan penuh keberkahan. Bagi mereka cukuplah sebelas bulan sebelumnya untuk mencari bekal dunia dan akan memfokuskan diri sebulan untuk mengisi Ramadhan. 

Sementara di Indonesia, seperti yang kita ketahui bulan Ramdhan adalah masa untuk bersiap mudik ke kampung halaman. Masa getol-getolnya berbelanja di pasar atau tempat sejenisnya untuk menyambut tanggal satu Syawal. Hanya sebagian kecil saja yang lebih fokus beribadah sebagai bulan menimba pahala.
Berbagi dan bersedekah masih merupakan bagian orang-orang tertentu saja. Mayoritas masyarakat ebih mengutamakan membeli perlengkapan hari raya seperti menghias rumah, mengecat ulang dinding, memperbaiki sofa yang rusak, menyiapkan toples dan aneka jajanan, angpao uang sebagai salam tempel, serta tak ketinggalan baju baru sebagai tradisi jelang lebaran.

Apalagi bagi perantauan, sebelas bulan sebelumnya merupakan masa mencari 'sangu' untuk pulang kampung. Berkunjung ke sanak keluarga demi menyambung silaturahim.

Demikian sedikit persamaan dan perbedaan tradisi yang bisa saya tuliskan guna memenuhi tugas tantangan RCO batch 7 kali ini. Semoga sedikit mencerahkan dan dapat diambil manfaatnya. Terima kasih.