(2) Sukses karena Riba #1

"Pokoknya saya tidak mau tahu. Uang itu harus kamu kembalikan! Awas kalau tidak!" Tangan lelaki bertubuh kekar dengan tumis menutup bibir atasnya sungguh membuatku merinding. Mungkin demikian juga dengannya. Lihat saja tubuhnya basah oleh keringat, tangannya bergetar meremas-remas jemari. Pasti, aku yakin dia sangat ketakutan dengan orang di hadapannya ini.

"Iya, Pak. Tapi saat ini saya benar-benar tidak punya uang sepeser pun." Dipandangnya sang istri yang meringkuk di sudut kamar kost sempit ini. Wajah ayu itu berubah pasi karena ketakutan yang luar biasa.

"Baik, kutunggu sampai besok. Jika tidak, rasakan dinginnya jeruji besi!" Lelaki kekar berkumis itu pun pergi setelah menggebrak pintu berbahan triplek.

Terbawa arus gaya hidup. Itulah yang dialaminya. Kekayaan yang tetiba mengucur deras membuatnya lupa untuk hidup seperti biasanya. Yang semula hanya memakai roda dua untuk pergi kemana-mana, karena alasan agar tidak kepanasan atau kehujanan maka cicilan dua juta sebulan nekat ditembus. Belum lagi tentang makanan. Sebelumnya masakan istri adalah makanan terenak dan membuat kenyang, setelah penghasilan delapan digit, display bisteak ternyata lebih menggugah selera makan. Baju dan aksesoris tak lagi bernilai ratusan ribu, jutaan adalah hal biasa. Hunian. Sewa sebulan kini bisa dipakai setahun pada kontrakan lama. Hedon. Gengsi.

"Kita harus bagaimana, Bang?" Sang istri langsung mendekap tubuh di hadapannya yang juga diam terpaku.
"Kemasi baju kita, Dik. Kita harus pergi."
"Tapi, Bang?"
"Aku tak sanggup membayar hutang itu. Kita tak punya pilihan."
"Kemana?"
"Yang jelas bukan pada kedua orang tua kita atau saudara. Entah, kita pikirkan sambil jalan."

Dia menggenggam jemari istrinya lalu mengangguk. Mungkin meyakinkan perempuannya. Secepat kilat tas sudah siap ditenteng. Pukul 23.13 jam dinding menunjukkan pekatnya malam. Tergesa keduanya melangkah setelah menyahutku dengan kasar.

Aku, si wadah coklat berbahan kulis sintetis yang selalu berada di saku celana menjadi saksi pahit kehidupannya. Juga saksi foya-foyanya sebelum merasakan membeli nasi goreng delapan ribu merupakan hal yang mahal.

Kini, semuanya telah dimiliki. Harta seakan tak akan habis dipakai.
"Dek, kamu ingat utang kita yang enm puluh juta?"
"Mana mungkin aku bisa melupakan bang."
"Abang ingin membalasnya."
"Tapi Bang,...?"


(Tunggu bagian selanjutnya ya!)

Posting Komentar

0 Komentar