(4) Sukses karena Riba #3

Seketika mata Aryo terbelalak, tersadar dari mimpi yang masih saja menghantui setiap kali bisa mengatupkan mata. Kelebat kejadian di terminal Rawajati lima tahun silam kembali mengusik.

"Bang?"
"Aku mimpi itu lagi, Dik." Aryo mengusap peluh yang membanjir di wajah. Ana beranjak dari kasur menuju kamar mandi. Tak lama terdengar gemericik air, sama seperti malam-malam sebelumnya ketika Aryo mengalami mimpi hal yang sama.

"Dik, maafkan Abang. Bukan maksud Abang mengingatnya, tapi ...." Kembali Aryo mengetuk pintu kamar mandi setelah hampir setengah jam istrinya tak juga keluar.
"Dik, maafkan Abang."

Ana membuka pintu perlahan. Meski mencoba tenang tapi masih kentara sesenggukan di pundaknya. Aryo segera mendekap tubuh basah Ana. Menuntunnya ke ranjang kemudian mengambilkan handuk dan baju ganti. Tak ada sepatah pun keluar diantara keduanya.

***
Aroma nasi goreng terasi membuat Aryo semangat melahap sarapannya. Ana tahu betul bagaimana memanjakan suami. Menu masakan biasa akan menjadi spesial jika yersentuh tangannya. Entah apa sebabnya, Aryo pernah penasaran dan sengaja menunggui sang istri saat masak. Sebatas penglihatan, apa yang dilakukan dan diracik istrinya sama saja seperti cara memasaknya tapi Aryo tak habis pikir mengapa hasilnya berbeda jauh dari segi rasa maupun tampilannya.

"Dik, hari ini Abang berencana ke Rawajati."
Ana seketika menghentikan suapannya. Ditatapnya tajam sang suami, berharap apa yang melintas di pikirannya tak sama dengan tujuan Aryo pergi ke Rawajati.
"Aku bisa menjaga diri." Aryo berdiri dan melangkah meninggalkan sang istri setelah mengecup keningnya.

"Abang, Ana yakin Abang bisa menjaga diri. Tapi bagaimana dengan keluarga kita?" Ana hanya bisa mengucap lirih. Dia tahu persis jika Aryo sudah menyebut "aku" maka tak akan ada yang bisa menghentikan.

Aryo memacu mobil sportnya dengan kecepatan tinggi. Mimpi-mimpi yang terus menghantuinya harus segera diakhiri. Dia tidak ingin terus terpenjara dengan penyesalan yang mendera. Aryo yakin hanya dengan cara seperti ini dia akan terbebas dari rasa bersalah.

"Sastro, sebentar lagi kau akan tahu bagaimana rasanya!" gumam Aryo ketika membelokkan mobil memasuki sebuah pelataran sebuah rumah dengan joglo yang luas. Nampak rana kayu berukir menunjukkan birunya darah sang empunya. Di sisi kanan nampak satu set meja kursi dari anyaman rotan. Sementara di sisi lainnya terdapat seperangkat gamelan berwarna keemasan.

"Sastro...!" teriak Ayo.



(nunggu lagi gak apa-apa ya?)  

Posting Komentar

0 Komentar