(1) Dufan dalam Angan

"Aku ingin main ke Dufan, Yah." Andi berseru kepada lelaki tua yang tengah merapikan sepatu kerjanya. Lelaki yang dipanggil 'ayah' oleh Andi itu hendak berangkat mengojek dengan motor butut yang dimiliki.

"Iya, Ayah usahakan liburan ini kamu bisa mainan ke Dufan ya?" jemari sang ayah mengusap rambut Andi, anak semata wayang yang dulu butuh waktu sepuluh tahun penantian setelah menikah.

"Buk, Ayah berangkat dulu ya. Doakan ada rejeki keluarga kita yang dititipkan di tangan-tangan penumpang."
"Aamiin, iya Yah. Semoga hari ini banyak yang minta diantar sama Ayah."
"Andi, sana salim Ayah. Doakan semoga ojek ayah rame hari ini," pinta sang ibu kepada Andi yang tengah asyik menonton televisi. Bocah sembilan tahun itu segera beranjak dan menjulurkan tangan kanannya ke hadapan sang ayah. Sebuah bisikan halusnya sedikit membuat sang ayah kehilangan senyumnya.
"Liburan ini ke Ancol ya, Yah?"
"Iya," ada sedikit keraguan dalam jawaban sang ayah. Terkelibat lagi bayangan dompetnya yang kosong. Uang yang semula sudah ia siapkan untuk memenuhi keinginan sang putra untuk pergi ke Dufan kemarin terpaksa digunakan untuk reparasi motor tuanya.
"Hore!" seru Andi penuh girang mendengar jawaban sang ayah.

Keluarga Dirman adalah satu diantara penduduk di Kwitang. Kehidupan yang serba pas-pasan membuat pergi berlibur adalah sesuatu yang sangat mewah. Mereka harus rela mengencangkan ikat pinggang jika ingin berlibur. Jangankan ke luar negeri, ke Dufan yang masih dalam satu kota pun harus benar-benar diperhitungkan.

Seharian Dirman telah menunggu penumpang di pangkalan ojek di ujung gang tak jauh pintu masuk area Taman Impian Jaya Ancol. Tatapan matanya tak lepas dari rombongan wisatawan yang berduyun-duyun mengantri membeli tiket masuk ke lokasi hiburan ini. Membayangkan dirinya bersama istri dan Andi diantara mereka membuatnya sedikit tersenyum.

Taman Inpian Jaya Ancol. Sebuah tempat rekreasi keluarga yang telah ada sejak jaman VOC dengan nama Slingerland. Pada masa Belanda banyak noni-noni yang dipayungi para budaknya menikmati pantai Ancol. Pantai yang menjadi salah satu tempat menarik di tempat ini selain Dufan bagi anak-anak pada masa kini.

"Bang, kenapa kau senyum-senyum sendiri?" Sebuah suara membuyarkan lamunannya. Segera Dirman menggelengkan kepala lalu mengusap wajah. Mengakhiri angan indahnya.
"Tak apa-apa, Jo." Sebuah senyum Dirman tunjukkan ke arah kawan ojeknya yang bernama Tarjo. Dirman hendak menceritakan keinginan anaknya kepada Tarjo tapi ia urungkan.
"Ada yang bisa kubantu, Bang?"
"Oh, tidak ada Jo. Aku hanya," Dirman menggantung ucapannya. Memikirkan kata-kata yang tepat agar tak merepotka Tarjo kembali seperti sebelum-sebelumnya.
"Aku hanya iseng menghitung berapa banyak orang yang ke Ancol itu." Dirman menunjuk arah yang dimaksud.
"Bisa saja kau, Bang." keduanya tertawa.

Pukul 19.25 Dirman pamit pulang terlebih dahulu pada teman-temannya di pangkalan. Kondisinya yang sudah tidak lagi muda membuatnya tak bisa lama-lama kena angin malam. Dua lembar uang dua puluh ribuan dan selembar lima ribuan telah mengisi dompetnya yang semula kosong. Jumlah yang cukup untuk bertahan hidup esok hari.

"Buk, hanya itu yang Ayah dapat hari ini. Semoga cukup untuk makan besok," ujar Dirman tatkala menyerahkan hasil jerih payahnya seharian. Sang istri menerima dengan tersenyum.
"Ayah tidak yakin bisa memenuhi janji ke Andi, Buk. Mahal biaya tiket masuk ke Dufan, tadi ayah sudah tanya-tanya ke teman yang pernah ke sana." Dirman menerawang, tak sanggup melihat ekspresi wajah anaknya jika tak jadi berlibur ke Dufan.
"Liburnya masih ada semingguan, Yah. Kita berdoa saja semoga ada jalannya." Kata-kata yang menentramkan hati selalu Dirman dapatkan dari istrinya. Perempuan yang nrimo dan bisa mengerti bagaimana harus bersikap.
"Aamiin, iya Buk. Semoga," sahut Dirman.

Seminggu kemudian Andi merengek mengajak ke Dufan lagi. Sehari sebelum liburannya berakhir.

"Ayo, Yah kita ke Dufan. Besok Andi sekolahnya sudah masuk lagi. Ayo ke Dufan!"
Dirman hanya menelan ludahnya. Seminggu ia bekerja keras ternyata jumlah uang yang dimiliki tak cukup untuk membeli tiket masuk Dufan.

"Ayo Yah. Andi pokoknya ingin ke Dufan!"
"Andi, sini duduk dekat ibu." Istri Firman mencoba menetralisir keadaan. Dipangkunya sang putra dan mencoba mengalihkan pembicaraan.

Sementara Dirman masih memencet-mencet keypad gawai mencoba menghubungi temannya.
"Maaf, Man bukannya aku tak mau bantu. Keuanganku juga lagi krisis." Dirman membaca satu pesan yang masuk gawainya. Dirman menghela napas berat. Ini adalah teman kesepuluh yang dihubunginya hari ini dan semua jawabannya sama, tak bisa memberi pinjaman uang.

Tak terasa butiran bening membasahi pipi Dirman. Dufan dalam angan, maafkan ayah Andi.

Posting Komentar

1 Komentar

Terima kasih telah bersantai di dwiresti.com. Mohon tinggalkan komentar yang membangun dan tidak berbau SARA.