Kini, semuanya telah dimiliki. Harta seakan tak akan habis dipakai.
"Dek, kamu ingat utang kita yang enam puluh juta?"
"Mana mungkin aku bisa melupakannya, Bang."
"Abang ingin membalasnya."
"Tapi Bang,...?"

Lelaki yang dulunya hanya tersisa tulang berbalut kulit kini berbeda 180 derajat. Wajah bersih karena perawatan ke salon, tubuh tegap dengan body sixpack, disempurnakan dengan mobil sport modifikasi. Stylist. Dialah Aryo, pengusaha jasa keuangan yang sedang naik daun.  kaum parlente yang menjadi nasabahnya. Hanya dengan ongkang-ongkang kaki dia sehari bisa meraup puluhan juta dari bisnis gelapnya. Mendekati pengusaha yang sedang sekarat dengan mengucurkan dana sejumlah berapapun yang diminta dengan syarat kepemilikan saham jika usahanya telah sukses. Jika tambah kolab? Jaminan aset yang dimiliki jadi haknya selain tertera sejumlah hutang di atas kertas bermaterai. Taktik.

Keuletannya mengelola keuangan mampu meyakinkan calon mangsanya. Track recordnya yang telah menyelamatkan usaha pailit membuat namanya kian melambung.

"Kau tenang saja, Dik. Hanya sedikit pelajaran." Seringai Aryo penuh kebencian, amarah. Sementara sang istri tak bisa berbuat banyak. Sekeras apapun mengingatkan Aryo hasilnya selalu gagal. Kemauan Aryo adalah titah, harus kesampaian apa pun dan bagaimanapun caranya.

Malam ini tak banyak laporan yang diterima Aryo sehingga pukul 23.13 dia sudah bisa berkumpul bersama istri. Kebersamaan yang mulai jarang mereka rasakan semenjak karier Aryo melejit. Kesempatan tak disia-siakan, di malam yang semakin dingin keduanya memagut kemurnian cinta dalam penyatuan. Hingga akhirnya Aryo mengigau.
"Ampun, Om. Saya janji akan bayar tapi lepaskan Ana. Lepaskan istri saya. Saya janji." Suara Aryo semakin serak, menangis dalam keterpejaman mata. Tangannya mengais seakan ingin menangkap sesuatu. Meraung kesakitan.
"Bang, Bang bangung, Bang!" Ana menggoyang-goyangbtubuh yang terkapar di sampingnya. Namun tetap saja Aryo meronta.
"Bang! Bangunlah!"

Seketika mata Aryo terbelalak, tersadar dari mimpi yang masih saja menghantui setiap kali bisa mengatupkan mata. Kelebat kejadian di terminal Rawajati lima tahun itu kembali mengusik.
"Bang?"


(Tunggu kisahnya lagi ya, next episode)