cara asyik belajar matematika

Matematika kerapkali dianggap sebagai pelajaran yang sulit oleh sebagian anak-anak. Demikian pula kah yang dialami Bapak-Ibu, anak mengalami kesulitan dalam belajar matematika? Menghindar duluan ketika diminta menyelesaikan pekerjaan rumah pelajaran ini? Atau yang lebih memprihatinkan lagi, anak akan merasa tegang, takut bahkan terlihat sangat stres ketika berhadapan dengan buku pelajaran berhitung?

Apa sih yang menyebabkan hal ini terjadi? Bagaimana solusi yang dapat kita ambil agar matematika bukan lagi menjadi momok yang menakutkan? Yuk, mari kita bahas bersama dalam Cara Asyik Belajar Matematika di Rumah bersama dwiresti.com.

Mengenal Matematika

Sebelum membahas secara lebih jauh tentang cara asyik mengajarkan anak pelajaran matematika, ada baiknya jika kita mengenal terlebih dahulu apa itu matematika.

Sejarah Matematika

sejarah matematika

Kata 'matematika' berasal dari bahasa Yunani, mathema yang berarti pengkajian, pembelajaran, ilmu yang ruang lingkupnya menyempit. Demikian yang tertulis dalam laman id.wikipedia.org.

Matematika sendiri mulai dikenal ketika ditemukan tulisan matematika terkuno, yaitu Plimpton 332 (Matematika Babilonia, sekitar 100 SM). Pada masa ini, penemuan yang terpenting adalah penggunaan bilangan seksagesimal yaitu rumusan yang menjadi dasar penurunan angka 60 detik untuk satu menit dan 60 menit untuk satu jam.

Kemudian Lembaran Matematika Rhind (Matematika Mesir, sekitar 2000-1800 SM), kemudian Matematika Moskwa pada sekitar 1890 SM.

Ketiganya kemudian membahas Phytagoras yang menjadi pengembangan ilmu matematika sehingga tersebar luas setelah aritmetika dan geometri.

Cabang-cabang Ilmu Matematika

Banyak tokoh yang kita kenal sebagai ahli matematika, salah satunya adalah Al Khawarizmi. Beliau adalah penemu cabang aljabar dan angka nol.

Ada pula Plato, Phytagoras, dan juga Aristoteles yang pada akhirnya membagi matematika menjadi berbagai cabang ilmu.

Cabang-cabang matematika ini meliputi :
  1. Aljabar
  2. Aritmetika
  3. Geometri
  4. Analisis

Matematika di Sekolah Indonesia

Di Indonesia, matematika merupakan ilmu wajib pada semua jenjang sekolah. Sekolah Dasar, SMP, SMA, bahkan ketika di bangku kuliah pun pelajaran ini tetap ada. Yang membedakan hanya pada bobot materi capaian yang diberikan.

Materi-materi setiap jenjang pendidikan telah ditentukan oleh pemerintah melalui acuan kurikulum. Pihak sekolah maupun guru tinggal berpedoman pada juknis yang ada.

Sejak berdirinya sekolah-sekolah,  Indonesia telah beberapa kali mengubah kurikulum pendidikan. Terakhir yang dipakai adalah Kurikulum 2013.

Kurikulum 2013

Kurikulum 2013 diterapkan sebagai pengganti Kurikulum 2006 atau KTSP Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan. Kurikulum ini menganut empat aspek penilaian yaitu :
  1. Aspek pengetahuan
  2. Aspek ketrampilan
  3. Aspek sikap
  4. Aspek perilaku
Dapat dilihat bahwa dalam Kurikulum 2013, penilaian tidak semata-mata pada aspek pengetahuan. Aspek ketrampilan, sikap, dan perilaku merupakan bagian utuh yang diharapkan membentuk karakter generasi bangsa yang siap bersaing dengan dunia luar.

Kurikulum 2022

Sebagai dampak dari adanya pandemi Covid-1 maka pada awal tahun 2022, pemerintah mewacanakan Kurikulum 2022 atau yang lebih dikenal dengan Kurikulum Prototipe.

Kurikulum ini merupakan kurikulum berbasis kompetensi untuk mendukung pemulihan pembelajaran dengan menerapkan pembelajaran berbasis proyek (Project Based Learning). Demikian sesuai yang tertulis di laman ditpsd.kemdikbud.go.id.

Matematika jadi Momok bagi Anak? 

Bapak-Ibu tentu sudah sangat paham bahwa setiap anak memiliki pembawaan sifat dan karakter yang berbeda. Tak bisa dipungkiri, demikian pula yang terjadi pada anak-anak kita. Meskipun satu rahim, ternyata sifat dasar masing-masing tetap tidak sama.

Sehingga demikian pula penerimaan anak dalam pelajaran matematika. Sebagian anak beranggapan bahwa pelajaran angka-angka ini sangat menyenangkan. Ada yang biasa saja, tidak ada kesulitan dalam pemahaman dan fine saja saat guru matematika mengajar. Namun tak sedikit yang menganggap bahwa matematika ini adalah sebuah momok yang sangat menakutkan. 

Beberapa penyebab yang mengakibatkan matematika dianggap sedemikian menakutkan oleh anak-anak, antara lain :

Kemampuan Dasar yang Lemah

Seperti halnya bayi yang baru lahir, mulanya dia tidak bisa apa-apa. Umur sebulan baru bisa melihat, tiga-empat bulan kemudian sudah bisa tengkurap. Demikian seterusnya hingga akhirnya kemampuan yang dimiliki kian bertambah.

Ketika si bayi mengalami kesulitan untuk belajar duduk maka dapat ditebak kemampuannya untuk berdiri pun akhirnya akan terganggu. Mungkin akan butuh waktu latihan lebih lama, atau mungkin bisa berdiri tapi kurang sempurna posisinya.

Demikian ketika anak belajar matematika. Jika pondasi atau kemampuan dasar yang dimiliki lemah maka bisa dibayangkan si anak akan kesulitan pada materi-materi selanjutnya.

Kemampuan dasar matematika ini terutama pada pengenalan angka, bilangan, kemampuan operasi hitung dasar yang meliputi perkalian, pembagian, pengurangan, dan penjumlahan.

Anak dengan kemampuan dasar lemah harus dikuatkan terlebih dahulu sebelum memasuki materi selanjutnya.

Stigma bahwa Matematika itu Sulit

Jika kemampuan dasar matematika sudah bagus, penyebab selanjutnya adalah adanya stigma bahwa matematika adalah pelajaran yang sulit. Pikiran semacam ini akan mempengaruh kinerja otak. Belum apa-apa sudah beranggapan bahwa pelajaran ini sulit. Hal ini mau tidak mau akan menjadi sugesti pada diri anak. Pada akhirnya akan merasa bahwa dirinya tidak bisa, tidak mampu, bahkan tidak suka matematika.

Guru yang Killer

Mungkin tidak di zaman anak-anak saja istilah 'guru killer' ini kita dengar. Bapak-Ibu sendiri pun pernah menemui guru semacam ini. Guru yang kita anggap keras, sangat disiplin, pelit memberi nilai, hingga membuat kita senam jantung saat sang guru memasuki kelas.

Sudah pelajaran yang diampu membuat kepala pusing, masih ditambah dengan guru killer. Sungguh jika anak-anak menemui kondisi seperti ini maka dia butuh pertolongan, butuh support yang lebih besar lagi dari Bapak-Ibu semua.

Pembelajaran yang Membosankan

Jika poin guru killer sudah terlampaui, maka penyebab selanjutnya adalah metode pembelajaran yang membosankan. Hanya itu-itu saja cara mengajar guru. Menyimak, mencatat, latihan sola, kemudian ujian.

Tentu kondisi seperti ini akan sangat membosankan. Anak-anak akan jenuh dan berakibat pada malas belajar. 

Cara Asyik Belajar Matematika di Rumah

Lantas setelah kita mengetahui kedua hal ini, matematika dan penyebab dijadikan pelajaran yang menakutkan, apa yang harus dilakukan? Bagaimana menjadikan anak asyik belajar matematika khususnya saat di rumah? Sehingga matematika tidak lagi menjadi pelajaran yang menakutkan.

Bapak-Ibu bisa mencoba beberapa cara di bawah ini. 

Beri Wawasan Manfaat Belajar Matematika

Berikan wawasan pada anak manaat apa yang akan diperoleh jika belajar matematika. Bisa juga menyampaikan mengapa anak harus belajar pelajaran bverhitung ini. Jika anak sudah paham sebab serta manaat belajar matematika maka diharapkan akan menambah motivasi dalam belajar. Ada strong why istilah kerennya.

"Dengan belajar ilmu diskon, kamu nanti bisa mengira-ngira tabunganmu cukup tidak untuk membeli sepatu idamanmu itu lho, Nak." Misalnya seperti ini. Atau bisa juga dengan,
"Kalau Kakak belajar matematika sungguh-sungguh nanti cita-cita bangun vilanya bisa Kakak sendiri lho yang ngedesain. Keren enggak tuh?"

Kemas dalam Bentuk Game

game matematika

Jika ternyata metode pembelajaran yang dipakai di sekolah membosankan untuk anak, maka Bapak-Ibu bisa mensiasati dengan mengemas matematika dalam bentuk berbagai game. Seperti yang kita pahami, anak-anak cenderung suka bermain daripada belajar. Maka tidak ada salahnya mengemas matematika ke dalam bentuk game agar anak-anak lebih tertarik belajar.

Beberapa contoh game yang bisa diterapkan adalah :

Bernyanyi

matematika bernyanyi

Untuk anak yang suka bernyanyi, mengemas pelajaran matematika dalam sebuah lirik lagu tentu sangat menarik. Tidak perlu menciptakan nada-nada baru, cukup gunakan nada lagu favorit anak atau lagu-lagu yang sedang hits.

Nada dan irama membuat pikiran menjadi rileks, sehingga materi yang dinyanyikan akan lebih mudah terserap.

Contohnya ketika menghafal tangga satuan berat, kita bisa memakai nada dan irama lagu anak yang berjudul Naik ke Puncak Gunung. Teks lirik diganti menjadi "Kilo hekto deka meter desi centi ke milimeter"

Ular Tangga atau Monopoli

Cara ini bisa dilakukan dengan menambahkan cerita yang berkaitan dengan soal-soal matematika. Syarat bisa keluar dari penjara jika berhasil menghitung jumlah uang yang dipegang, misalnya. Atau pada bilah papan ular tangga diberikan satu pertanyaan untuk bisa mengocok dadu lagi.

Kelompok Warna

Game yang lain adalah Kelompok Warna. Permainan ini lebih cocok untuk usia sekolah dasar. Selain mengenalkan warna, anak juga bisa dilatih berbagai kemampuan dasar berhitung.

Bahan yang diperlukan juga mudah didapat, misalnya kertas warna, sedotan, atau apa saja yang mempunyai berbagai warna.

Langkah awal, anak diminta menggolongkan benda dengan warna yang sama, kemudian anak diminta menhitung jumlah masing-masing warna. Setlah semua diketahui jumlahnya, kita bisa memberikan soal hitung dasar, misalnya :
  • Jumlahkan benda yang berwarna merah dengan benda berwarna hijau
  • Ambil 25 benda berwarna kuning lalu masukkan ke 5 wadah yang disediakan dengan jumlah sama banyak.

Meronce

Pada permainan ini, ketrampilan yang diasah adalah mengenal bentuk-bentuk geometri. Anak diminta meronce geometri yang disediakan berdasar urutan yang diinginkan. Setelah jadi sebuah roncean bisa dipasang sebagai tirai jendela atau pintu kamar anak.

Teka-teki

Untuk lebih meningkatkan pengalaman berpetualang, game teka-teki ini bisa dijadikan alternatif. Aturan permainannya seperti menemukan harta karun, hanya saja teka-teki yang diberikan berkaitan dengan ketrampilan hitung matematika.

Misalnya untuk menentukan banyaknya langkah yang harus diambil, anak diberikan soal untuk menghitung luas kamar tidurnya. Jawaban luas inilah yang menjadi petunjuk berikutnya.

Masukkan dalam Aktivitas Sehari-hari

Cara asyik belajar matematika di rumah lainnya adalah memasukkan dalam aktivitas sehari-hari. Kita tahu, aktivitas sehari-hari tidak bisa lepas dari matematika. Mulai bangun tidur hingga kembali tidur selalu saja ada materi matematika yang digunakan.

Nah, agar anak-anak tidak merasa sedang belajar matematika maka salah satu caranya adalah menerapkannya langsung dalam kehidupan sehari-hari.

Sebagai contoh, saat membuat kue maka takaran-takaran yang digunakan adalah manaat dari mempelajari matematika. Lamanya mengoven, hingga kue nanti akan menjadi berapa buah dengan bahan-bahan yang telah ditakar pun merupakan penerapan dari ilmu matematika.

Contoh lainnya adalah proses jual beli. Ajak anak-anak untuk berbelanja. Minta mereka memperkirakan jumlah total harga belanjaan kemudian membayar di kasir. Jika tebakan mereka tepat maka boleh diberikan reward sesuai kesepakatan.

Dengan demikian, anak-anak tidak merasa bahwa mereka sedang belajar dan menerapkan ilmunya sekaligus.

Peran Orang tua dalam Mendampingi Anak Belajar Matematika di Rumah

Perlu Bapak-Ibu ketahui, semua metode di atas tidak akan maksimal jika tidak ada peran orang tua. Kunci keberhasilannya tergantung pada kita sebagai orang tua. Ada 3 peran utama yang harus kita terapkan, yaitu :

Mendampingi

Seabagai orang tua, tentulah banyak aktivivtas lain selain mendampingi tumbuh kembanvg anak. Waktu 24 jam akan terasa kurang jika kita tidak pandai mengatur waktu. Sesibuk apa pun kegiatan kita, hendaknya tetap meluangkan waktu mendampingi anak belajar.

Anak akan merasa lebih semangat belajar ketika didampingi orang tua walaupun dalam waktu yang kita luangkan tidak lama.

Mengarahkan

Ini yang banyak menjadi kendala sebagian orang tua. Bnayak yang bisa mendampingi ketika anak belajar tapi untuk mengarahkan merasa tidak menguasai ilmunya.

Zaman semakin modern, semakin canggih, ada teknologi yang memberikan berbagai solusi. Jika kita memang benar-benar tidak memahami ilmu yang sedang dipelajari oleh anak, kita bisa sisipkan pesan-pesan moral. Misalnya dengan mengajak anak belajar bersama, memahami materi yang dipelajari bersama-sama.

Jangan Menuntut

Satu hal ini yang sering kita lupakan, menuntut hasil belajar yang maksimal. Memberikan target tinggi untuk anak tapi kita tidak pernah mendampingi atau mengarahkan proses yang dilalui.

Jangan sampai kita menjadi orang tua egois yang hanya menuntut tanpa memberikan dukungan penuh. Memberikan target boleh-boleh saja asalkan diimbangi dengan support kepada anak dalam proses pencapaiannya.

Demikian beberapa cara asyik belajar matematika di rumah, semoga memberi wawasan dan pengetahuan kepada kita semua sehingga anak enjoy dalam belajar terutama dalam pelajaran matematika.